Showing posts with label chomsky. Show all posts
Showing posts with label chomsky. Show all posts

Monday, September 27, 2010

Chomsky dan Argumen Israel Lobby

Muhamad Hidayat

26 September 2010

Walaupun Chomsky telah menjadi salah satu rujukan penting bagi saya dalam memahami dunia kasat mata, ada dua pendapat dia yang membuat saya bingung, karena dua-duanya aneh, dan bahkan kurang “populer” di kalangan para intelektual progresif. Pertama tentang pandangan dia terhadap aksi terorisme 11 September 2001, yang terkesan pragmatis dan banyak merujuk pada laporan resmi pemerintah AS. Kedua, tentang pandangan dia tentang Israel Lobby, sebuah gagasan yang dipopulerkan oleh Prof. John Meirsheimer dan Stephen M. Walt di tahun 2007, lewat bukunya yang sangat populer, Israel Lobby and the US Foreign Policy. Sekarang kita ngomong yang ke dua dulu.

Lewat buku Israel Lobby, Meirsheimer dan Walt berpendapat bahwa hampir seluruh kebijakan luar negeri Amerika yang menyangkut perang Irak, perang Afghanistan dan terutama konflik Israel-Palestina, serta kebijakan strategis lainnya di Timur Tengah adalah produk dari lobi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pro-Israel di Washington. Dalam pandangan ini, kebijakan luar negeri Amerika yang menyangkut Timur Tengah telah dibajak oleh organisasi-organisasi Lobi Israel yang menguasai Konggres, untuk memenuhi kepentingan Israel sendiri. Singkatnya, Israel dalam pandangan ini lebih merupakan beban bagi Amerika karena Amerika sedang tidak menjalankan perang untuk dirinya sendiri. Lewat organisasi lobi yang sangat kuat inilah Israel mendapat bantuan 3 miliar dolar per tahun dari Amerika serta dukungan tanpa syarat atas semua kelakuan Israel. Argumen ini sekarang sangat populer di kalangan media independent dan alternatif.

Chomsky, sebaliknya, menganggap remeh argumen Lobi Israel ini. Bukan berarti menyalahkannya, karena memang benar terdapat lobi-lobi Israel yang sangat kuat yang memiliki dana besar untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden dan anggota Konggres. Lobi-lobi ini juga menguasai berbagai media utama di Amerika sehingga mempengaruhi pemberitaan mereka agar selalu bernuansa pro-Israel[1]. Namun, menurut Chomsky, argumen Lobi Israel ini tidak cukup untuk menjelaskan level bantuan moral, material (militer) dan diplomatik Amerika terhadap Israel. Singkatnya lobi-lobi Israel di Pentagon cuma bagian kecil saja dari jalinan yang lebih kompleks dan historis antara Amerika dan Israel.

Lewat buku Fateful Triangle[2], yang oleh Edward Said dalam kata pengantarnya disebut sebagai karya “paling ambisius dalam memahami konflik antara Zionisme dan Palestina yang melibatkan Amerika,” Chomsky memaparkan fakta-fakta akademis yang merujuk pada argumen bahwa perselingkuhan incest antara Amerika-Israel bukan semata-mata ulah Lobi Israel, namun telah tumbuh lama dan berkembang dalam budaya populer-liberal Amerika yang dimulai sejak pra-Perang Dingin, bukan semata-mata oleh alasan ideologis yang terutama diusung oleh kalangan konservatif Zionis di Amerika. Jadi, menurut Chomsky, sentimen pro-Israel telah mendarah daging dalam budaya akademis Amerika, tidak hanya dalam kalangan kanan, tapi bahkan kalangan kiri yang paling liberal pun banyak yang pro-Israel.

Kalau Meirsheimer dan Walt berpendapat bahwa Israel lebih menjadi “beban strategis” Amerika di Timur Tengah, karena Israel merusak hubungan Amerika dengan Dunia Islam, Chomsky berpendapat bahwa Israel memang diperlukan bagi Amerika, terutama untuk menjadi “polisi” di Timur Tengah agar segala ancaman terhadap dominasi minyak Amerika tidak terancam, dan untuk menjaga agar negara Timur Tengah dan sekitarnya tidak keracunan nasionalisme sekuler-independen. Tidak seperti buku Israel Lobby, buku Fateful Triangle kaya dan padat akan catatan-catatan sejarah sejak Perang Dunia untuk mendukung argument yang dikemukakan.

Israel menjadi penting bagi Amerika untuk menjaga kekayaan Arab agar tidak jatuh ke tangan Eropa dan Jepang. Nah di sinilah letak kecerdasan argumen Chomsky. Dalam literatur umum banyak dikemukakan bahwa intervensi Amerika ke Timur Tengah, termasuk akhirnya mensuport Israel, adalah untuk menjauhkan Uni Soviet dari Timur Tengah. Propaganda ini disebarkan oleh Amerika untuk mendapatkan dukungan publik pada masa Perang Dingin. Namun sebaliknya, ancaman utama yang dihadapi Amerika di Timur Tengah datang dari Eropa dan Jepang, bukan Uni Soviet. Amerika takut kalau Inggris, yang baru saja kehilangan titel negara adi daya, Perancis dan Jepang menguasai perdagangan minyak Arab dan akhirnya lari dari cengkeraman dan ketergantungan terhadap Amerika. Bukan minyaknya yang penting, tapi akses terhadap minyak dan distribusinya yang menentukan monopoli Amerika. Sedangkan Uni Soviet memang tidak terlalu tertarik dengan Timur Tengah. Walau sempat memiliki “sekutu” di Mesir lewat presiden Nasser dan di Siria, Uni Soviet belakangan terbukti tidak peduli dengan mereka. Bahkan saat perang Israel melawan Mesir, Sirian dan Yordania tahun 1967, ketiga negara Arab itu dibiarkan dihancurkan oleh Israel[3].

Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang pro-Barat saat itu, sehingga ia menjadi penting dalam lingkup kepentingan geo-strategis Amerika di sana, karena ketakutan utama Amerika adalah nasionalisme independen negara-negara minyak (yang saat ini ditunjukkan oleh Iran dan Venezuela). Israel akhirnya juga banyak membantu Amerika dalam mensterilkan Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin dari nasionalisme. Israel menjadi penting karena ia memberikan banyak bantuan militer, pelatihan dan teknis kepada diktator-diktator di kawasan-kawasan itu. Sebut saja Idi Amin dari Uganda, Haile Selassie dari Ethiopia, Mobutu Sese Seko dari Zaire, dan hampir seluruh diktator di Afrika dan Amerika Latin saat itu[4]. Ini juga yang kemungkinan menjadi dasar gerakan solidaritas Palestina di berbagai negara Amerika Latin, setelah diktator-diktator mereka tumbang.

Argumen Chomsky inilah yang menjadi sebab bahwa ia lebih melihat berbagai perang dan konflik di Timur Tengah secara pragmatis dan realistis, bukan berakar pada peperangan ideologis Zionisme dan kelompok konservatif Kristen Amerika melawan Islam, walaupun argument ideologis tersebut juga memaparkan berbagai fakta-fakta pendukung juga. Nah di sinilah dilemma terjadi, karena kedua argumen hampir sama kuat. Namun, yang ditakutkan semua kalangan dari berbagai konflik di Timur Tengah sampai saat ini tetap sama: terorisme yang merajalela dan perang nuklir.

------------

[1] Di antara media-media utama tersebut adalah New York Times, Fox News dll.

[2] Buku setebal 578 halaman ini (Updated Edition 1999), seperti halnya banyak buku Chomsky lainnya memberikan banyak sekali catatan kaki dan referensi yang komprehensif.

[3] Kemenangan strategis atas Eropa dan Jepang inilah yang menjadi penanda bahwa Amerika akan menjadi negara adi kuasa yang baru.

[4] Dalam kesempatan lain, Chomsky juga menyebutkan kalau Israel juga berperan dalam membantu Suharto menginvasi Timor Timur tahun 1975 dengan membantu helicopter dan peralatan perang yang langsung dikirim oleh Israel.

“Masalahnya Kita Tidak Mau Mengakui Kalau Terorisme Kita Adalah Terorisme (2)”

20 Juli 2009 dan 23 September 2010

“Mengapa mereka membenci kita?” tanya George W. Bush dalam salah satu pidatonya menanggapi aksi terorisme 11 September 2001.

Sebenarnya pertanyaan itu sangat mudah dijawab. Jika para teroris yang kita bicarakan adalah kaum Muslim fundamentalis (karena ada teroris jenis lain. Bush juga menyebut kaum Katholik revolusioner Amerika Latin sebagai “ekstrimis Katholik,” sepadan dengan ekstrimis Islam, cuma mereka tidak asik diberitakan), tidak serta merta mereka akan benci begitu saja dengan kita, kemudian main bom sana sini, main tembak sana-sini. Kalau mereka teroris sejati, yang kerjaannya bunuh orang, ngapain mereka tidak membom pasar atau taman kanak-kanak, atau kebun binatang (kata Chomsky), yang jelas-jelas tanpa pengamanan yang berarti? Kan korbannya akan lebih banyak. Tapi mengapa mereka memilih menyerang JW Marriot atau polsek?

Yang salah kaprah adalah menilai terorisme berakar dari kejadian 11 September 2001. Padahal akarnya tunggang langgang sampai kemana-mana. Dan semua juga tahu kalau penyebabnya adalah: Amerika dan Israel masih saja menjajah Palestina, membunuh jutaan kaum Muslim di Irak, Afghanistan, mengusir mereka, mempermalukan harkat mereka sebagai manusia (coba bayangkan, tidak ada yang sudi menghitung korban sipil di Afghanistan, misalnya. Jumlahnya simpang siur. Amerika bilang 40 ribu, Information Clearing House bilang 5 juta. Padahal mereka kan juga manusia, bukan bebek).

Dan target para teroris juga tidak sembarangan, minimal yang oleh mereka dinilai sebagai salah satu institusi milik pemerintah yang dianggap rukun dengan yang Barat dan jahat itu tadi.

Lalu apa sebabnya terorisme selalu terjadi? Menurut Chomsky, “Masalahnya ada pada ketidak mauan kita untuk mengakui kalau terorisme kita adalah terorisme.” Yang dimaksud “terorisme kita” tentu terorisme Amerika dan Israel sebagai simbol Barat. Jadi pembantaian jutaan warga Irak, Afghanistan, pembantaian Gaza, Lebanon, Sudan dll tadi adalah bukan terorisme, tapi namanya “promosi demokrasi.” Kalau si Amerika dan Israel yang membunuh, ada 1001 macam alasan yang dijadikan pembenaran di PBB, tapi kalau si teroris yang membunuh, semua orang akan balapan mengecam.

Lalu mengapa pola pikir kita bisa jungkir balik tidak karuan seperti itu? Menurut Chomsky, dibutuhkan alat indoktrinasi dan cuci otak yang sangat canggih (namanya Media, Propaganda, dan Demokrasi), sehingga orang bisa menyensor dirinya sendiri. Maksud menyensor diri sendiri adalah, kita akan cenderung diam, dan kedengaran biasa saja ketika semua kejahatan dilakukan oleh Amerika dkk. Lalu kapan kita akan sadar? Ya nanti kalau salah satu keluarga kita sudah mati dibom Amerika atau Israel.

Lalu apa bedanya teroris dan para “promotor demokrasi”? Jawabannya juga mudah.

Kalau para teroris adalah orang-orang gunung yang tinggal di gua, yang berewokan tidak karuan, tidak pernah mandi, yang tahunya cuma teriak “Allahu akbar”, yang latihan perang pakai bambu runcing, atau AK-57, dan yang latihan menembak dengan target foto SBY. Yang buat bom rumahan yang isinya paku. Yang hobinya ngebom gedung-gedung atau orang-orang yang dianggap dekat dengan Amerika. Jumlah mereka relatif kecil dan dibenci semua pihak. Termasuk saya juga benci.

Nah, lalu seperti apa para promotor demokrasi yang baik itu? Yaitu mereka yang memiliki tank-tank, pesawat F-16 sampai F-22, Sukhoi dan yang memiliki senjata-senjata yang super canggih. Punya kapal induk, kapal selam dll. Punya nuklir. Punya industri senjata. Yang latihan menembak dengan target manusia-manusia beneran di Irak dan Palestina. Kadang-kadang targetnya anak-anak atau mbah-mbah. Orang semua itu. Yang punya kaki tangan yang namanya kaum intelektual.

Sama juga dulu jaman Julius Caesar. Julius kewalahan memburu para bajak laut yang juga disebut teroris. Tapi si bajak laut malah bilang, “Kalau penjahat kecil-kecilan seperti kami namanya bajak laut, kalau penjahat besar seperti Tuan namanya imperialis.”

Tapi ada satu persamaan mendasar diantara keduanya: sama-sama maniak gila. Dan saya bukan pendukung para teroris gila itu. Saya netral, senetral embun pagi dan makhluk luar angkasa.

Dan secara esensial, keduanya juga teroris. Satunya bernama “organisasi teroris,” satunya lagi bernama “negara teroris” (Kata Chomsky). Tapi yang satu tidak punya media, tidak punya DPR, dan Konstitusi sebagai pembenaran, yang satunya punya, sebagai alat propaganda dan pembentuk opini publik. Itu saja.

Nah, bagaimana kita bisa menghapuskan terorisme? Seperti menghapuskan jamur, harus dicabut sampai akarnya: penyelesaian konflik Israel-Palestina sesegera mungkin. Itulah mengapa konflik ini jadi sangat penting. Dan banyak aktivis internasional, dari Irlandia sampai Venezuela, mulai berusaha memberikan penyadaran akan gentingnya masalah ini bila dibiarkan berlarut-larut.

Tapi celakanya, Israel dan Amerika tidak sudi untuk berdamai, dan para teroris terlanjur patah hati. Ya biar Tuhan saja yang mendamaikannya. Dan saya yakin sebentar lagi pasti damai.
(anarchism)

Media Costs Our Lives

(Notes on Noam Chomsky’s classic, “Media Control”)

By Muhamad Hidayat, edited by Edward Tripp

25 July 2010

There are two rudimentary functions of the media: first, to indoctrinate “the elites” so that they know how to serve the ruler best; and second, to alienate the “non-elites” from public debates so that they don’t try to interfere with decision making-process in the government level. The non-elites are supposed to become lost and unaware that their voices don’t count and don’t matter much.

1. Media as Indoctrination Device for Elites

The elites here include those belonging to the “political class”—those whose voices in one way or another matter to the authority’s decision-making process. They are politicians, judges, prosecutors, members of parliament, ministers, and pretty much those who work for the government (Mrs. Michele Obama and Mrs. Ani Yudhoyono may join if they wish). “Businessmen class” also belongs to this cohort. They comprise powerful employers and big people involved in determining the company’s policies. Another crucial member of this group is the “intellectual class,” to which intellectuals and smart people in universities—professors, college students, researchers, whatever—belong. The last member of the political class includes journalists and those working for large, profit-driven, mainstream media. Those people altogether constitute the staunch supporters of Western “democracy,” meaning, democracy as determined by World Bank and the IMF, through which the US channels its hegemonic enterprise.

Elite segment of society suffers from the most intense media indoctrination and propaganda. They read big mainstream newspapers, journals, magazines and other elite media which are heavily subsidized by ads and corporations whose analyses and contents cannot be read and understood easily by laymen. The elites are too cool to mingle with common people. They admire complexity, and are too fastidious in everything, from food to music to cool philosophers to read. The more complex and intricate things going on, the better for them.
In America, they may read New York Times, or Wall Street Journal, or Washington Post. In Indonesia, they read Kompas, Media Indonesia, Jakarta Post or Tempo. However, not the entire contents of mainstream media are propaganda, but language used and tones mostly are.

Why those cool people are the most indoctrinated? They are mutually hooked to each other. The president and members of parliament must be smart enough to satisfy rich and powerful businessmen (giant multinationals, primarily those coming from America and Europe), otherwise they would risk their reelection and the rich men would flee their country, lacking of investments. That is why free market exists. Poor people and local, small businessmen must be flogged with cut of subsidy, wage cuts and lay-offs, so that they won’t become too mawkish. Life is competition, and solidarity is irrational and excessive. So don’t ever disappoint the rich and powerful. The rich and the super-rich, on the other hand, must choose their presidents and friends in government with due care, or they would put their speculative investments at risk. Intellectuals don’t want to be outdone either; their duty is to maintain the continuity of this system until generations to come—in short, to inherit the system.

2. Media to alienate the non-elites from public debates.

The second function of the media is to alienate the common people from public debates, and keep them clueless of essential issues (although they may very much concern people’s lives). Let important matters be taken care of by “big guys in government.” Don’t let the people know that there is something going on.

People are wild, undomesticated, unmannered, and not well-behaved, and if they knew a little, they would rage uncontrollably. So there has to be media that keeps them mute. If smart people read New York Times or Kompas, those clouds should also be offered some “reading materials” to keep them busy and feel included. Then came the entertainment media: the gossips, soap operas, Disney, Animal Planet, cooking magazines, MTV, World Cup, etc. Don’t they need some hard news? Let’s give them reports on youth violence, or sex scandals, or “three-headed babies,” in Chomsky’s words. So they must be provided with some “not-really-serious” matters, and then be allowed to come to a voting box once in four or five years.

Sometimes there are some people who climb into success and make good careers. For instance, their children are managed to study in good schools, so they would receive good education and trainings and be aware of the etiquette in pleasing rulers and bosses of big corporations. But a great number of them must remain the same, so that corporations do not run out of consumers.

3. Product of Media

Like having transactions in market, the media also sells its product. What is the product and who is the buyer? The product of the media is the reader of that media, while the customer is the advertiser, or the business world, or corporations.

Look. Mainstream media is a parasitic institution. They got money from advertisers. And there has to be some “agreement” between the advertisers and the media. In other words, the interests of the media has to, one way or another, agree with the interests of business world. So if the business world favors free market, the media has to automatically picture free market positively and spread propaganda to advance free market principles.

In summary, the society, as the product of the media, are marketed and sold to the business world to become consumers. This analogy is more easily understood as far as entertainment media is concerned. But how about the elite media? Same thing. The elite people, readers of elite media, are sold to corporations, not merely as consumers, but as “special people” who would be in charge of taking over this somewhat complex system. The point is, the association among the elite political class is arranged very cleanly and automatically. But how come? Because they have all been “socialized” from kindergarten up to university, Chomsky concludes. So, how much do you cost now?

Thursday, February 11, 2010

Refleski Tentang Media (2)


(sambungan dari “Refleksi Tentang Propaganda”)

10 Feb 2010

Pada dasarnya media punya dua fungsi dasar: pertama untuk mendoktrin kaum elit agar mereka tahu bagaimana tata cara melayani penguasa, dan yang kedua, menjauhkan kaum “tidak elit” dari perdebatan publik supaya mereka tidak sok turut campur dalam proses pengambilan keputusan di pemerintahan.


1. Media sebagai alat indoktrinasi bagi kaum elit


Kaum elit disini mencakup mereka yang termasuk dalam “kelas politik,” yaitu mereka yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan di pemerintahan. Ada politikus, hakim, jaksa, DPR, mentri, presiden…(silakan teruskan sendiri). Lalu, yang termasuk kaum elit lainya adalah “kelas bisnismen,” yaitu pengusaha besar dan semua yang terlibat dalam penentuan kebijakan perusahaan. Nah lalu kaum elit yang ketiga adalah “kelas intelektual,” atau para orang pintar di universitas-universitas: ada professor, mahasiswa-mahasiswi, dan orang-orang yang mengaku intelek, melek huruf dan senang nonton berita, termasuk para jurnalis.


Kaum elit adalah segmen masyarakat yang paling terdoktrin oleh media, karena mereka paling banyak ter-ekspose oleh propaganda, dan kebanyakan memang terjun langsung dalam penentuan kebijakan publik. Mereka membaca koran-koran, majalah, dan media-media yang juga elit, atau yang tidak mungkin bisa dipahami orang awam. Musik mereka pun kadang-kadang ikut nyleneh, susah dipahami. Kok musik, sampai makanan pun juga pilih-pilih. Pokoknya mereka suka sekali sama sesuatu yang serba rumit dan ruwet, dan biasanya semakin ruwet dan aneh semakin menarik bagi mereka.


Kalau di Amerika, mereka membaca New York Times, atau Washington Post atau Wall Street Journal. Kalau di Indonesia mereka membaca Kompas, Media Indonesia atau apalah saya nggak peduli… Tetapi bukan berarti seluruh konten dari media-media mainstream tersebut adalah propaganda. Konten bisa saja faktual, tone-nya biasanya sangat propagandis…hehehehe….


Kenapa kelas politik, kelas bisnis, dan kelas intelektual masuk dalam kaum elit yang paling menderita karena propaganda? Ya karena mereka bertiga itu ibarat simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan dan kait mengait. Para politikus yang dipimpim presiden harus pintar membahagiakan orang-orang kaya (pebisnis raksasa, terutama yang datang dari negeri Barat), karena kalau orang kaya sampai sedih, siapa yang akan berinvestasi? Itulah mengapa ada Pasar Bebas. Rakyat dan pengusaha kecil boleh saja susah, dan harus dicambuk biar tidak cengeng. Tapi ingat, jangan sekali-kali mengecewakan orang-orang kaya, nanti yang namanya “Enokomi”, yang sampai jadi ilmu pengetahuan itu, runtuh. Kalau sampai runtuh, ibu Menkeu yang susah. Kemudian, kelas pebisnis juga harus jeli memilih teman di dunia politik (termasuk memilih presiden), salah-salah malah gak jadi untung berlimpah. Kelas intelektual juga gak mau kalah, mereka tugasnya menjaga kelangsungan sistem ini sampai generas-generasi selanjutnya--singkatnya, menjadi pewaris.


2. Media untuk menjauhkan kaum non-elit (rakyat biasa, wong ndeso, dll) dari perdebatan publik.


Kemudian, fungsi kedua dari media adalah untuk menjauhkan orang awam dari pengetahuan-pengetahuan yang penting-penting, agar urusan-urusan penting hanya diurusi oleh orang-orang penting saja. Siapa orang-orang penting itu? Ya ketiga kelas masyarakat yang sudah disebutkan diatas. Kaum awam jangan sampai tahu kalau ada sesuatu.


Kaum awam itu liar, tidak tahu tata krama, yang apabila tahu sedikit saja, bisa mengamuk tidak karuan. Jadi harus ada media yang membuat mereka tetap dungu…boso Jowone, ngah ngoh…nek ditakoni gur “ha he ha he…” Kalau orang pintar membaca Kompas dll. orang awan juga harus dikasih bacaan, biar tetap sibuk. Maka muncullah media-media hiburan, ada gossip, sinetron, tontonan misteri, filem layar lebar, acara masak-memasak, MTV, siaran sepak bola dan seterusnya. Lalu apa orang awam tidak butuh berita? Oke lah…kasih saja berita-berita semacam bayi berkepala tiga (kata Chomsky), kekerasan sex dll. Pokoknya orang awam harus dikasih sesuatu yang “tidak serius” seperti itu. Boleh lah, sekali dalam lima tahun mereka memilih presiden, tapi jangan lebih dari itu. Bilang saja kalau politik itu menakutkan…beres masalahnya.


Kadang-kadang, ada juga orang awam yang bisa naik derajatnya. Misalnya, ada anak-anak mereka yang disosialkan di universitas-universitas atau di sekolah-sekolah (bahkan sekolah internasional), sehingga anak-anak mereka tahu tata krama dalam melayani penguasa, yaitu pemerintah dan korporasi. Tapi kebanyakan dari orang awam memang harus tetap jadi awam, agar pebisnis tidak kehabisan konsumen.


3. Produk Dari Media


Ibarat jual beli lele dumbo di pasar, media juga menjual produknya. Lalu apa produk dari media? Dan siapa pembelinya? Produk dari media adalah pembacanya sendiri. Sedangkan pembeli dari produk tersebut adalah advertiser, alias pengiklan, alias dunia bisnis (iki kok malah dadi muter-muter…biarin, biar kelihatan intelek).


Begini. Media (mainstream) dapat duit dari mana? Apakah dari jualan koran, misalnya? Atau dari siaran TV? Media kemungkinan malah merugi ketika mereka harus cetak koran atau majalah, warna-warni lagi. Media dapat duit dari IKLAN. Ada iklan hape, blekberi, mobil, rumah mewah sampai iklan sedot WC otomatis.


Nah, kita sudah tahu bahwa kebanyakan media mainstream (besar) hidup dari iklan. Nah bagaimana cara media agar para pengiklan terus mengiklan di media-media tersebut? Gimana agar pengiklan tersebut tidak lari? Jawabannya, harus ada “kesepakatan.” Maksudnya, kepentingan media harus sepakat dengan kepentingan dunia bisnis. Kalau dalam dunia bisnis sekarang yang sedang nge-tren adalah pasar bebas, ya jangan sekali-kali media mengkritik pasar bebas. Gitu aja kok repot.


Jadi, kesimpulannya adalah masyarakat sebagai produk dari media (pembaca media) “dijual” kepada dunia bisnis untuk dijadikan konsumen. Analogi ini akan lebih mudah dipahami bila kita bicara tentang media hiburan bagi orang awam. Lalu bagaimana dengan media elit? Sama saja. Kaum elit pembaca media elit tersebut juga “dijual” kepada dunia bisnis. Tetapi bukan sekedar menjadi konsumen, kaum elit tersebut nanti akan menjadi manusia-manusia “istimewa” penerus sistem yang agak kompleks ini.


Intinya adalah, jalinan diantara kaum elit (politikus, pebisnis dan intelektual) tersebut tersusun sangat rapi dan otomatis. Mengapa? Karena kepentingan mereka sama, yaitu menjalankan roda sistem ini tanpa gangguan orang-orang dungu yang jadi mayoritas. Kok kepentingan mereka bisa sama? Lha karena mereka semua telah disosialkan, semenjak TK sampai universitas. Gimana nggak sama?


Nah itulah pentingnya sekolahan sebagai salah satu alat indoktrinasi masyarakat….(yang akan dibahas dalam tulisan-tulisan selanjutnya, InsyaAllah).


Salam hangat-hangat nikmat...

Muhamad Hidayat.

(seri tulisan: “Demokrasi: Othak Athik Mathuk”)

Sumber: Noam Chomsky, “Understanding Power.”

Chomsky, “Media Control.”

Dll.

Thursday, November 20, 2008

Bom-boman pesawat dan “Kejahatan terburuk dalam sejarah manusia” dan peran media

Hidayat, 23 Oktober 2008

(secuil untuk karya besar)

Ternyata Wikiquote ada gunanya juga, setelah lama saya underestimate. Semakin membaca Chomsky, semakin gak habis-habis kagetnya. Ada saja yang baru. Termasuk cerita berikut ini. Sedikit ngomong sejarah boleh lah.

1 September 1983, Uni Soviet menembak jatuh pesawat komersial Korea Selatan, KAL 007, dan menewaskan 269 jiwa. Histeria terjadi dimana-mana, terutama di Amerika. Kejahatan luar biasa (dan memang benar). Bayangkan anda naik pesawat, tau-tau ditembak jatuh. Gila. Media berkata: “Russia adalah penjahat terburuk sepanjang sejarah manusia”, “Barbar”, “Monster”. Anggap saja ini benar. Penembak pesawat penumpang apa bukan monster?

Amerika tentu saja “tidak terima.” Ia merespon dengan membombardir Nikaragua dan meningkatkan sistem pertahanannya. Wall Street juga heboh, karena belum pernah ada dalam sejarah, harga saham perusahaan pertahanan menjadi sangat mahal. Singkatnya, terjadi euphoria sebagai respon atas tindakan Soviet yang gila itu. Media berperan penting dalam hal ini.

Sebagaimana yang diperkirakan Chomsky, media selalu saja pintar dalam menggiring massa yang bodoh ke sudut pandang tertentu (yang merasa dan ngaku pintar pun tetep saja bodoh). Selalu ada hal-hal dan fakta objektif yang disembunyikan (saya sekarang tidak takut mengatakan objektifitas. Silakan gak terima). Tak terkecuali mengenai kasus ditembaknya pesawat Korea oleh Soviet[1]. Pertanyaan-pertanyaan lama-lama muncul ke permukaan. Tidak sedikit orang-orang yang curiga dan berntaya kalau ada yang salah. Dan setelah pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, isu ini sudah hilang dengan sendirinya, tak ada euphoria lagi, karena semua orang sudah tahu apa latar belakangnya. Lalu apa latar belakangnya?

Pertanyaan yang muncul saat itu adalah, ngapain pesawat komersial Korea terbang di area sensitive kawasan udara Russia[2]. Jawaban singkatnya tentu saja tidak mungkin ada pesawat komersial berani nyasar sampai wilayah udara Rusia. Kenapa pesawat jet Amerika yang dipasang di sekitar wilayah tersebut tidak memberi sinyal pada pesawat Korea itu untuk menjauh, sekiranya pesawat komersial itu memang kesasar? Jawabanya, memang pesawat-pesawat tempur Amerika tidak memberikan sinyal[3]. Jadi apakah pesawat KAL 007 tersebut “dibiarkan” lewat daerah terlarang? Sulit membayangkan kecanggihan teknologi navigasi barat bisa error sefatal itu. Kemungkinan besar memang dibelokkan arahnya, bukan dengan sendirinya nyasar. Jadi setelah semua orang tahu kalau motif ditembak jatuhnya pesawat Korea itu adalah bukan semata-mata kesalahan navigasi (alias memang sengaja agar ditembak), isu ini redam dan hilang dalam wacana publik Amerika.

Nah sekarang beralih ke isu-isu serupa yang sebenarnya sangat penting, tapi di-luputkan oleh media. Sekarang kita lihat beberapa bom-boman pesawat lainya yang tak jadi hysteria namun lenyap dan normal-normal saja, berapapun korbannya. Contoh pertama adalah ditembak jatuhnya pesawat jet komersial sipil Angola oleh UNITA, organisasi paramiliter di Angola yang disupport oleh Amerika dan Afrika Selatan, sekitar bulan-bulan akhir tahun 1983. Pemboman itu menewaskan 126 warga sipil. Kejadian itu hanya mendapat 100 kata di harian New York Times. Lalu beberapa waktu kemudian (Februari 1984), UNITA kembali menembak jatuh jet sipil. Tak ada yang sempat menghitung korbannya, dan sama sekali tak masuk media Amerika (media utama panutan media-media lainya di dunia, dan di Indonesia). Tapi karena Amerika adalah supporter UNITA, jadi ya itu biasa-biasa saja, tidak ada yang kaget, solider, histeris dan sebagainya. Kesampingkan karena korbanya berkulit hitam.

Contoh lagi, Oktober 1976, dan ini isu yang penting dan sempat mengemuka di belahan bumi non-barat, adalah dibomnya (bukan ditembak) pesawat komersial Cubana Airlines milik Cuba yang menewaskan 79 orang, termasuk seorang atlet Cuba peraih medali emas kejuaraan anggar Olimpiade. Si pengebom yang menempatkan bom di pesawat itu adalah agen CIA, yang setelah kejadian itu masih terus bertugas di CIA, ngebom lain-lainya (namanya saya lupa, tapi dia jadi terkenal). Dan ini juga ditoleransi. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang heran. Namun masih menjadi permasalahan bagi Cuba sampai saat ini (2008).

Contoh lagi ke belakang, Februari 1973, Israel menembak jatuh pesawat jet komersial (kayaknya milik Mesir) cuma dua menit setelah meninggalkan Kairo, dan menewaskan 110 orang. Pesawat itu ditembak jatuh Israel di gurun Sinai saat terjadi badai gurun. Apalagi kasus ini, jelas tidak dipermasalahkan, apalagi histeris; dan lenyap begitu saja, seperti tidak ada apa-apa. “No confusion, no ambiguity” kata Chomsky. Israel gitu loh, gak usah dikasih alasan panjang lebar pasti sudah tahu sendiri. Sekutu utama[4]. Kata New York Times, Israel mengaku bertanggung jawab dan membayar kompensasi. Standar ini berlaku di seluruh media di dunia. Namun apa yang sebenarnya terjadi? Israel tidak bertanggung jawab, apalagi mbayar kompensasi. Israel hanya setuju memberikan ex-gratia compensation, semacam bantuan kemanusiaan yang sangat murah, dan itupun yang mbayar Amerika. Israel menolak membayar kompensasi karena berimplikasi pada pertanggung jawaban. Gengsi dong. Udah nembak pesawat orang kok tanggung jawab! Media malah berkata, kurang lebih, “Tidak ada gunanya lagi sekarang untuk saling menyalahkan [Israel].”

Agak ke belakang lagi, tahun 1955, Air India yang membawa delegasi Cina untuk Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955 dibom, banyak orang meninggal. Di dalamnya termasuk menewaskan semua delegasi Cina yang akan berangkat ke KAA di Bandung tersebut. Dan siapa yang membom pesawat komersial itu? Tak lain adalah seorang agen CIA yang di kemudian hari mengaku. Tujuan pemboman itu adalah untuk membunuh pemimpin Cina, Zhou Enlai (Chou Enlai) yang seharusnya berada dalam pesawat itu bersama delegasi Cina lainya, namun karena sesuatu hal, ia tidak jadi ikut naik bersama dalam rombongan Cina yang akhirnya tewas semua bersama penumpang sipil lainya itu (entah siapa yang rela menghitung korban-korban semacam itu)[5].

Lalu jika kita tarik benang merah dari cerita diatas, “kejahatan terburuk sepanjang sejarah manusia” lalu milik siapa? Amerika, Israel atau Russia atau yang lain? Ya milik mereka semua. Gak usah dibandingkan, toh faktanya ada di depan mata (terutama kalau mata kita sering berada di depan internet), kalau mereka semua lah yang pantas disebut barbar, tidak pilih kasih.

Nah contoh-contoh lain silakan dicari sendiri. Yang terpenting disini adalah peran media yang tidak cawe-cawe masalah ini semua, artinya, masalah yang menyangkut kebijakan Amerika. Kalau diulas, biasanya faktanya dibelokkan atau di falsifikasi, seperti dalam kasus Israel. Chomsky hanya menemukan satu media di Amerika yang mengulas secara adil (saya sekarang tidak takut bicara “adil” “objektif” dll. Silakan tidak terima) tentang kasus Israel tersebut, yaitu LA Times. Yang lain, gak masuk meja redaksi sama sekali, atau paling banter “Tidak ada gunanya lagi sekarang untuk saling menyalahkan.”

Dan disini, kata Chomsky (sebagaimana ia ulas dalam banyak sekali karyanya, yang tidak digubris orang) adalah betapa pentingnya peran media dan betapa berhasilnya propaganda media. Butuh suatu kultur totalitarian dalam masyarakat untuk membiarkan fakta-fakta objektif tentang kejahatan-kejahatan Amerika dan Israel terlewatkan begitu saja, kata Chomsky.

Sungguh suatu pencapaian propaganda yang sangat luar biasa sehingga setiap orang mampu menyensor dirinya sendiri untuk tidak menggubris fakta-fakta objektif kejahatan Amerika dan Israel yang ada di depan mata mereka sendiri. Bahkan sekali klik di Google bakal muncul jutaan entry. Tapi terlewat begitu saja dari pemahaman dan pemikiran. Kata Chomsky, ini benar-benar pencapaian sukses media dan propaganda, yang belum pernah ada dalam sejarah manusia: bagaimana bisa sehingga setiap orang mampu menyensor dirinya sendiri. Dengan kata lain, untuk tidak bertanya tentang isu-isu tersebut, tidak mempelajari, tidak mau menengok, takut dsb (bahkan, jika mau melihat fakta tersebut, saking mudahnya dan didepan mata kita, seorang berumur 11 tahun pun bisa menjelaskanya dalam dua menit, dan dalam waktu yang sama, anak kecil tersebut meruntuhkan sistem itu). Hebat. Dan ini berlaku di dalam segala sistem, termasuk sistem pendidikan sendiri. Orang yang ngakunya “terpelajar” dan “terdidik” pun tetap menyensor diri mereka sendiri. Bukannya double standard, namun single standard: yang berlaku dan signifikan adalah yang “kita.”

Dan memang saat ini kita hidup dalam totalitarian culture, tidak beda dengan hidup di negara komunis. Cuma alat sensornya beda, kalau di demokrasi-kapitalis, alat sensornya media dan propaganda; kalau komunis-Leninis, alat sensornya bedil. Chomsky:

American propaganda always works: by servility and cowardice and class interest. In other words, we have a relatively centralized media, and there are great advantages to subordinating yourself to external power, which in fact represents your interests anyhow. The mass media are basically big corporations, and they share the interests of other major corporations, which means the interests represented by the state. So it's not too surprising that they'd tend to support state power; what is interesting is the uniformity, the virtual lack of deviance.

Dalam totalitarian culture terdapat sebuah media pemberitaan yang tersentralisasi, yang menaklukkan manusia pada kekuatan eksternal, namun merepresentasikan kepentingan mereka. Karena media elit adalah biasanya sebuah korporasi besar yang merepresentasikan kepentingan-kepentingan korporasi-korporasi besar lain, yang juga berarti kepentingan-kepentingan yang direpresentasikan oleh negara. Jadi kita (dan media) cenderung mensupport kepentingan-kepentingan negara yang termanifestasi dalam kepasifan dan keseragaman, submissif, serta ketidak mampuan kita untuk berperspektif lebih luas dan bertanya, atau keluar dari perspektif kepentingan lingkaran setan tersebut. Bahkan jika fakta-fakta objektifnya ada didepan mata kita sendiri. Sejarak beberapa klik dari mouse komputer kita. Kata Chomsky dalam salah satu lecture nya: “The real world teaches very different lessons, and it takes willful and dedicated ignorance to fail to perceive them.” Butuh “dedicated ignorance” atau kebodohan yang berdedikasi untuk melewatkan fakta-fakta yang ada dalam “the real world” atau dalam realitas nyata. Bahkan Chomsky membayangkan jika ada seorang observer independen dari Mars, alias ada alien dari Mars yang mengawasi gerak-gerik kita, ia akan tertawa histeris sampai mati karena melihat fenomena ini, bagaimana bisa manusia dengan standar moral yang ngakunya sama, bisa melewatkan fakta yang menggunung di depan matanya. Bahkan peserta seminar filsafat di universitas-universitas terkemuka pun masih melewatkanya (menyensornya).

Tak bisa disangkal (tapi tetep boleh disangkal) kalau anda dan saya hidup dalam kultur totalitarianisme yang sangat canggih, lebih canggih dari komunisme yang bisanya cuma menggunakan bedil. Kita lebih maju (atau lebih goblok?) karena tidak dibedilpun sudah manut.

ÓHidayat, 2008.

Analisis dari: Chomsky’s Talk at UC Berkeley on U.S. foreign policy in Central America, May 14, 1984 and some other talks



[1] Disini bukan lagi ngomong masalah “Komunis v.s. Kapitalis” lagi. Kuno dan tidak relevan. Tapi kalau mau romantis-romantisan ya silakan, Bebas kok. Membiarkan orang lain bebas itu yang susah.

[2] Ingat, masa itu adalah fase akhir Perang Dingin. Masa dimana komunisme Soviet membusuk dari dalam dan akhirnya runtuh di tahun 1991. Saya membayangkan, bila saat itu, masa kepemimpinan Gorbachev (atau masih Kruschev ya?), yang sadar kalau ekonomi Soviet terpuruk dan diambang kehancuran masih berani nembak pesawat orang, gimana kalau Stalin masih hidup? Seluruh Korea bakalan disama ratakan dengan tanah kali ya…?)

[3] Kejadian ini mirip kejadian di WTC dan Pentagon 2001. Seharusnya pesawat-pesawat yang nabrak gedung tersebut segera dialihkan atau ditembak oleh pesawat-pesawat tempur Amerika 10 menit sebelum memasuki wilayah secure (aman) tersebut. Dan ternyata, pesawat-pesawat itu (United Airlines dan American Airlines) dibiarkan saja menabrak-nabrak. Wah kayaknya ini jadi bahan tulisan baru nih… Tunggu saja.

[4] Israel nembak kapal perang Amerika saja dibiarkan saja, Ketika masih hangat perang antara Mesir dan Israel saat itu. Amerika jelasa marah, tapi terlalu takut. Lobi Israel sangat kuat, sehingga setiap petinggi militer dan semua politikus Amerika (dan sabagian besar warga ameriak dan dunia) menyensor diri mereka sendiri jika berkaitan dengan masalah Israel.

[5] Kalau ini SANGAT MENGAGETKAN, saya belum pernah ingat, kalau delegasi Cina tidak datang ke KAA di Bandung karena tewas semua dibom CIA. Dalam pelajaran sejarah di sekolah saya kayaknya belum pernah mendapati ini (atau saya lupa?). Kaget boleh, tapi tidak harus.

Mengapa Politik dan Ilmu Sosial lainya Susah Dimengerti

oleh: Hidayat, 30 Oktober 2008

Semakin membaca Chomsky, semakin kaget saja saya (walaupun tidak harus). Dalam Language and Responsibility nya, Chomsky memaparkan peran para intelektual (termasuk mahasiswa) dalam me maintain atau menjaga “social order” dan “defending the interest of the elite” atau sebagai pendukung kepentingan (bukan kebijakan) para elit. Chomsky juga mengkritik anggapan bahwa social knowledge (politik internasional, sejarah, dll.) membutuhkan alat khusus(teori atau metodologi) untuk dapat dipahami orang. Konsekuensinya, poltik dan sejarah dll., dalam hal ini, susah dipahami orang, karena yang boleh paham adalah mereka yang paham teori dan metodologi untuk memahaminya.

Padahal menurut Chomsky, “everything in social and political affairs is right on the surface” alias seharusnya sangat mudah dipahami karena berhubungan dengan fakta yang dapat di indera. Tidak seperti ilmu-ilmu lain semacam linguistik, fisika dll, yang memang membutuhkan background, pemahaman, dan pengetahuan teknis lainya. Pertanyaanya sekarang, mengapa kalau ada seseorang ngomong soal politik, orang-orang susah memahami dan mudah melarikan diri? Jawabanya adalah karena “this social and political affair is maintained by intellectuals to look complicated and not understandable.” Jadi memang sengaja, dalam hal politik dan ilmu-ilmu lainya (sejarah, filsafat, dll), untuk membuat orang biasa menjadi bingung dan tidak paham masalah para intelektual (jangan ngaku bukan intelek!), karena mereka membuat apa yang diomongkan mereka menjadi tidak terjangkau bagi pemahaman orang biasa. Mucul juga media-media yang tidak bisa dipahami semua orang.

Lalu mengapa para intelek melakukan itu? Jawabanya adalah “for domination and personal privilege,” dominasi intelektual dan gengsi pribadi. Gak harus para intelek yang duduk di singgasana karir mereka masing-masing, kan kita saja sebagai mahasiswa menjadi keren kalau bisa ngomong ,tahu, melakukan macam-macam yang tidak semua orang paham. “It’s very natural for intellectuals to try to make simple things look difficult.” Sangat alami bagi para intelektual untuk membuat hal yang mudah kelihatan susah, kata Chomsky. Alami. Wow. Sangat alami untuk membuat hal yang sebenarnya mudah hanya dipahami oleh para intelek.

Orang biasa takut karena mereka ndeso, tidak sekolah, tidak sekeren mahasiswa, jadi tidak berhak untuk berbuat apa-apa. Diperlukan misteri-misteri, seperti misteri politik, misteri sejarah, misteri filsafat, misteri seni, misteri sastra, dan misteri lainnya; jika tidak, semua orang akan paham segala sesuatu. Kalau semua orang paham, gak ada yang keren dan nyeni jadinya. Maka muncul pembahasaan-pembahasaan khusus untuk hal-hal yang sebenarnya mudah. “[People] have to be subordinated so you make things look mysterious and complicated …. talking big words that nobody can understand.” Orang harus dipinggirkan sehingga menganggap apa yang kita bicarakan kelihatan misterius dan ruwet. Para intelektual mecoba membahas sesuatu, apa arti dibalik sesuatu itu, yang sebenarnya tidak ada apa-apa di dalamnya, dan sangat biasa saja.

Begitulah caranya para intekeltual untuk meminggirkan orang ndeso dari perdebatan publik dan analisis tentang fakta-fakta sosial politik (dan fakta sosial lainya). Dan standar ini berlaku baik untuk intelektual Kanan maupun Kiri. Kiri lebih gila lagi. Lebih eksklusif lagi ruang lingkupnya. Contoh: gerakan-gerakan Marxis atau anarkis yang teriak macam-macam tapi tidak ada orang yang paham. Lalu muncul kumpulan-kumpulan yang ngobrol segala sesuatu yang dibuat rumit (orong-orong salah satunya). Yang jika ada orang biasa masuk dalam lingkaran para intelek yang ngobrolin yang rumit-rumit itu, orang tersebut langsung keringat dingin karena gak paham dan inferior.

Bahkan dalam wacana post modern, kata Chomsky, ini menjadi lebih gila lagi, terutama di Paris. Wacana-wacana sederhana yang diangkat oleh post-modernis perancis diolah menjadi sesuatu yang keren (alias tidak dipahami semua orang) sehingga media di sana tertarik untuk mengkover dominasi intelektual mereka.

It makes people feel they’re not going to do anything because, unless I somehow understand the latest version of post-modern this and that, I can’t go out in the streets and organize people, because I’m not bright enough.

Karena saya tidak paham post-modern versi ini itu, jadi saya tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menganalisis apa-apa, tidak masuk dalam lingkaran yang pantas memahami segalanya, karena saya tidak cukup pandai (dan keren), gak tau teorinya[1]. Tidak bisa membantu orang, tidak bisa berpropaganda dll. Orang biasa tidak berguna.

Tentang politik, sebenarnya permasalahan politik sangat mudah dipahami siapa saja. Namun masalahnya ada dua. Satu, para intelek membuatnya jadi susah dipahami. Dua, para intelek tidak paham sama sekali karena kurang rumit. Contoh sederhana, analisis mengenai mengapa Brazil (atau kita) terbelit utang. Jawabanya bisa dijelaskan dengan bahasa yang sangat mudah, misalnya karena duitnya ditanam di New York agar bisa berlipat ganda dsb. Anak kecil juga paham. Dan masalah-nasalah politik lainya juga mudah dipahami. “[Y]ou don’t have to talk about them in post-modern rhetoric.” Gak perlu dirumit-rumitkan seperti wacana post-modern (yang ujung-ujungnya menyangkut isu politik juga).

You can talk about them [political affairs] in very simple words because they’re very simple points and people easily understand. The only people who don’t understand them are intellectuals. … If they understand them, then their own powers are lost. So they’re not going to understand them, they’re going to cloud them in mysteries.

Masalah politik bisa dijelaskan dengan bahasa yang simple sehingga semua orang bisa paham karena poin dalam masalah politik sebenarnya mudah dipahami (tidak butuh analisis Kompas atau Tempo dan media elit lainya). Yang tidak bisa paham adalah justru mereka para intelektual, karena jika mereka paham, mereka akan kehilangan dominasinya. Karena segala sesuatu harus rumit dan membingungkan. Lalu muncullah misteri-misteri yang rumit dan membingungkan yang tidak untuk dipahami semua orang.

Chomsky, mewakili orang biasa dalam menghadapi wacana sosial politik, menantang:

Well, if there is some theory or set of principles or doctrines that are too complicated to understand and you have to really study them, then show me something that can’t be said in simple words.

Jika memang harus belajar sungguh sungguh, dan harus tau teori macam-macam untuk memahami segala sesuatu, coba tunjukkan segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa yang mudah.

Dan memang para intelek tersebut tidak bisa menggunakan bahasa yang mudah karena mereka harus berrumit-rumitan. Jadi mereka bisa membuktikan apa yang tidak bisa dipahami dengan bahasa orang biasa (kejebak). Chomsky berkata pada orang biasa, coba tanya seseorang intelektual untuk menjelaskan essay terbarunya Derrida sehingga kamu dapat memahaminya. Mereka tidak akan mampu menjelaskanya karena terlalu keren dan tinggi kecerdasan para intelek tersebut. Mereka bahkan tidak bisa ngomong dengan bahasa orang biasa (kalau Megawati tidak bisa ngomong bahasa orang pintar). Jadi Chomsky menjebak, coba buktikan segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam bahasa biasa. Eh ternyata memang terbukti, contohnya tentang Derrida (dkk.) tadi.

Lalu apa kesimpulanya? Chomsky:

And I think you must ask yourself very carefully what great leap in evolution has taken place that enables people to have these fantastic insights that they can’t convey to ordinary people about topics that no one understands very much about. One should be very skeptical about that, that’s another technique by which intellectuals dominate people.

Apa memang terjadi lompatan besar dalam evolusi sehingga ada intelektual-intelektual dengan ide-ide fantastiknya yang tidak bisa dipahami orang biasa. Inilah salah satu teknik dominasi para intelektual (orang pandai) atas orang biasa: buat hal-hal sederhana sehingga kelihatan rumit. Setelah kelihatan rumit, besar-besarkan.

Meja itu memang berwarna coklat atau cuma pikiran saya saja ya…?

-Hidayat- 30 Oktober 08

Sumber utama: interview “Anarchism, Intellectuals and the State” dalam Chomsky on Anarchism hal. 212-220

Sengaja banyak pake bahasa inggris, bukan karena inggris itu elit, tapi karena memang target pembacanya para intelek yang bisa baca bahasa inggris.

Bahasa indonesia yang tidak manut EYD nya juga mewakili.


[1] Saya curiga, inilah mengapa Chomsky selalu menolak untuk membuat teori-teori dalam analisis politiknya. Milih jadi orang biasa. Gobloknya saya, saya malah dulu malah bingung membaca analisis Chomsky yang bahasanya sangat mudah dicerna.