Tuesday, February 10, 2009

Saya Jadi Ragu Kalau Konflik Israel Palestina Cuma Masalah Politik


Hidayat 10 Feb 09

Sekian lama saya menganggap kalau konflik Israel-Palestina cuma masalah politik saja. Namun setelah melihat agresi Israel ke Gaza kemarin, saya dikonfrontasikan dengan argument yang selama ini saya takuti: Israel-Palestina adalah konflik agama. Berikut adalah faktanya.

Israel adalah negara agama “Yahudi,” seperti Arab Saudi dan Pakistan sebagai negara “Islam.” Dalam serangan ke Gaza kemarin, polling menyebutkna bahwa 80% warga Israel mendukung agresi militer tersebut. Yang menghebohkan saat ini adalah fenomena kemunculan partai-partai kanan yang dalam berbagai poling mendapatkan mayoritas suara di Israel. Selain itu, kemungkinan besar, Benjamin Netanyahu akan memenangkan pemilu hari ini (10 Feb.). Ia berasal dari Partai Likud, partai sangat kanan di Israel (sebenarnya kanan atau kiri sama saja di Israel). Likud adalah partai yang memiliki hubungan paling kental dengan lobi Israel di Amerika (AIPAC dan CPMAJO—Conference of Presidents of Major American Jewish Organizations). Sementara itu, partai ekstrim kanan garis keras (ortodox) Yisrael Beiteinu, pimpinan Avigdor Lieberman juga semakin kuat dukungannya, dan diperkirakan akan menjadi salah satu dari 4 partai penguasa Knesset (parlemen Israel), mengalahklan Partai Buruh nya Ehud Barak. Lieberman sekarang sedang berkampanye untuk mengusir warga Israel keturunan Arab (yang berjumlah satu juta atau sekitar seperlima dari jumlah penduduk Israel), untuk memurnikan Israel. Rencana itu didukung oleh Netanyahu. Lieberman terkenal sangat fasis.

Sementara itu, sentiment jihad terhadap warga Gaza sangat terasa, terutama di kalangan militer. Ini disebabkan karena mayoritas tentara Israel berasal dari kalangan Yahudi Ortodox di “pemukiman” (liar) di Tepi Barat, Palestina. Tambahan lagi, militer Israel sekarang dibajak oleh rabbi-rabbi ekstrim yang berjanji untuk melakukan perang suci melawan bangsa Palestina. Terdapat proses “teologisasi” di dalam militer Israel, yang cukup dikhawatirkan oleh banyak kalangan termasuk petinggi Israel sendiri.

Dalam serangan kemarin, rabbi dari kemiliteran Israel menyebarkan pamphlet kepada Tentara Pendudukan Israel (Israeli Occupation Forces) yang mengajak untuk tidak kenal ampun terhadap penduduk Gaza. Pamflet tersebut ditulis oleh rabbi Shlomo Aviner, ketua seminari (liar) di pemukiman Muslim Tepi Barat, Palestina. Pamflet tersebut telah disetujui oleh pimpinan rabbi militer, Brigjen Avichai Ronsky. Isi pamphlet tersebut adalah diantaranya: “Jika kamu mengasihani para musuh yang kejam, kamu menjadi kejam terhadap pasukan yang jujur dan suci ini… ini adalah perang melawan para pembunuh.” Ia juga menekankan pada tentara IOF agar “tidak menyerahkan satu millimeter pun wilayah Israel Raya.” Israel Raya (Eretz Israel), menurut kalangan ortodox Yahudi (yang mengacu pada kitab suci mereka) mencakup seluruh wilayah Palestina plus Yordania.

Boklet ini dimunculkan untuk meningkatkan “combat value” (nilai pertempuran?), setelah Israel kalah dalam perang melawan Hezbollah, 2006 silam. Brigjen Ronsky (ketua rabbi militer) sendiri adalah seorang ekstrim kanan dan juga pemukim (liar) di Tepi Barat. Ia juga sering mengunjungi teroris Yahudi ekstrim di penjara Israel dan menaungi para pemukim ekstrimis di Tepi Barat. (catatan: pemukiman liar di Tepi Barat adalah politik mantan PM Ariel Sharon, yang memasukkan para warga yahudi ekstrim untuk tinggal di wilayah Tepi Barat Palestina, membangun pemukiman2 liar, untuk mencaplok Jerusalem dan seluruh wilayah Tepi Barat. Semua pemukim adalah kalangan ortodox Yahudi yang kebanyakan berasal dari Amerika).

Para rabbi dalam milter IOF bertujuan untuk mencuci otak para tentara dengan “nilai-nilai religious” agar tidak kenal ampun pada “musuh yang kejam”, kata Ha’aretz. Diantara tentara IOF, 40 % adalah jebolan seminari (illegal) atau yeshiva, di pemukiman illegal di Tepi Barat. Sementara itu, Ehud Barak baru saja memberikan persetujuan untuk membangun 4 yeshiva baru di pemukiman Yahudi ortodox di Jerusalem, Tepi Barat, Palestina.

Doktrin para ekstrimis Yahudi adalah memusnahkan para warga “sub-human” Palestina dan mencaplok seluruh wilayah mereka. Imajinasi para ekstrimis menyebutkan bahwa mereka adalah “manusia pilihan” Tuhan atau “chosen people,” yang superior atas ras lainya. Di Israel sendiri, warga Arab Kristen adalah warga kelas dua, sedangkan Arab Muslim adalah warga kelas tiga (yang keduanya terancam di usir atau dibantai oleh Avigdor Lieberman—Netanyahu menyetujui usulan Lieberman ini, kata Ha’aretz). Para rabbi ekstrimis mengacu pada kitab Talmud yang, katanya, menjanjikan bangsa Yahudi untuk tinggal di Zion (bukit di Jerusalem). Talmud, katanya, juga berkata kalau para “gentile” (atau non-Yahudi, atau goyim dalam bahasa Ibrani, atau kafir dalam istilah Islam) seperti binatang (kera atau babi) yang sama sekali tidak berharga. Mereka mempunyai hak untuk membunuh para “gentile” ini.

Kalau ideologi Zionisme itu sendiri sudah sedemikian rupa fasisnya, saya jadi ragu kalau ini cuma isu politik regional. Belum lagi ketundukan Amerika tanpa syarat pada Israel (Israel adalah negara bagian ke 51), semakin membikin penasaran. Dalam Israel Lobby, Prof. Mearsheimer dan Walt juga memaparkan bahwa lobi Zionis di Konggres terutama dimotori oleh kalangan Kristen Evangelical, yang kemudian disebut sebagai kalangan Christian Zionist, yang mengacu pada kesamaan imajinasi mereka tentang penafsiran kitab suci (kalangan ini pernah mendapat tantangan dari kalangan Kristen Presbyterian Amerika, namun seperti sudah diprediksi, mereka akhirnya lenyap disensor oleh media). Tentu, tidak semua Yahudi adalah Zionist. Kalangan Yahudi Anti-Zionist (Anti-Zionist Jews) selalu berkampanye kalau warga Yahudi Israel telah keblinger dengan Zionisme—yang berideologi fasis eksklusif dan tidak toleran. Kalangan ini mengacu pada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa tidak ada pertentangan yang serius antara warga Yahudi dengan Islam. Bahkan selama ribuan tahun, mereka hidup berdampingan dengan damai di Palestina, sampai tahun 1948, dimana minoritas Yahudi Zionis mendirikan negara “Yahudi” Israel. Saat agresi pasukan Salib pun, warga Muslim dan Yahudi Palestina (bahkan warga Kristen Palestina) berjuang bersama dan menjadi korban pembantaian.

Dan yang lebih mengherankan lagi, pemerintahan Obama sekarang adalah pemerintahan yang “paling Zionist” sepanjang sejarah Amerika, menilik pada banyaknya pejabat Zionist dan Kristen-Zionist dan pro-Israel Zionist yang menduduki posisi penting dan berpengaruh di pemerintahan Obama. Bahkan 20 Januari lalu, The Jewish Telegraph Agency, agen berita utama kalangan Yahudi Zionist Amerika, dengan bangga membeberkan daftar pejabat tinggi Obama yang “pro-Zionist” yang bertugas di Timur Tengah. Diantaranya adalah Richard Hoolbroke, Dennis Ross, dan George Mitchell (saya sudah menuliskan tentang ini dalam “Obama dan penjahat-penjahat di pemerintahanya” di blog saya). George Mitchell adalah utusan khusus Obama untuk urusan Timur Tengah yang dipercaya untuk mencari “solusi” konflik Israel-Palestina. Sedangkan Dennis Ross adalah utusan khusus mengenai masalah Iran. Belum lagi para pejabat tinggi seperti wapres Joe Biden, chief of staff Rahm Emmanuel (pejabat tinggi pertama yang berkewarganegaraan ganda, Israel dan Amerika), dan Hillary Clinton (yang berjanji “to obliterate”, akan memusnahkan 70 juta warga Iran jika Iran menyerang Israel), adalah para tokoh yang terkenal pro-Zionist dan dekat dengan AIPAC, lobi Israel terkuat di Amerika.

Sementara itu, saat serangan ke Gaza kemarin, Menlunya Bush, Condoleeza Rice mengusulkan paket resolusi PBB tentang gencatan senjata. Namun PM Olmert langsung menelpon Bush, saat Bush sedang mengisi kuliah, agar Bush menolak resolusi PBB yang digagas oleh Rice sendiri. Akhirnya Amerika abstain dalam resolusi tersebut. Ini sangat mengagetkan, karena terlihat betapa Amerika tidak mampu menghadapi pengaruh Israel. Bahkan Bush lebih mengedepankan kepentingan Israel daripada kepentingan internasional yang dibawa oleh menteri luar negerinya sendiri.

Selain itu Konggres juga menelurkan resolusi yang isinya mendukung serangan Israel. Ini tidak mengagetkan, melihat peran lobi Israel dalam Konggres AS teramat kuat. Hanya anggota Konggres Dennis Kucinich yang menolak resolusi tersebut. Dalam Israel Lobby disebutkan bahwa Konggres sering berdebat panas dalam isu mengenai kesehatan, pajak dll, namun selalu kompak dalam masalah Israel.

Melihat fenomena ini, saya menjadi sangsi, kalau konflik Israel-Palestina adalah konflik politik semata. Melihat rekor diatas, apakah ketakutan saya mendapat pembenaran, sebagaimana telah disadari oleh banyak analis, bahwa konflik ini adalah konflik agama?

Sumber-sumber utama:

“Did the Israeli Army Wage a Jewish Jihad in Gaza?” Jonathan Cook, DissidentVoice.org, February 4th, 2009

“Collusion, Complicity and Sheer Insanity”, Rannie Amiri, Counterpunch.org, Feb. 2, 2009

“Black Flag”, Uri Avneri, InformationClearingHouse.info, Feb 02, 2009

“The Nightmare of Netanyahu Returns”, TheIndependent.co.uk, Feb. 6, 2009

“From Gaza to Tehran”, James Petras, InformationClearingHouse.info, Jan. 31, 2009.

“Can Mitchell turn Jerusalem into Belfast?”, Ali Abuminah, electronicintifada.net, Feb. 2, 2009.

“Elections 2009 / Netanyahu: Lieberman campaign against Israeli Arabs is 'legitimate'”, Haaretz.com Feb. 6, 2009

Israel Lobby”, John J. Measheimer and Stephen M. Walt

“Haaretz Poll: Kadima, Likud are neck-and-neck with 4 days to go”, Haaretz.com, Feb. 7, 2009

Appendiks 1. 51 Organisasi Yahudi Amerika yang menolak proposal gencatan senjata dari Menlu Rice:

1. Ameinu

2. American Friends of Likud

3. American Gathering/Federation of Jewish Holocaust Survivors

4. American-Israel Friendship League

5. American Israel Public Affairs Committee (AIPAC)

6. American Jewish Committee

7. American Jewish Congress

8. American Jewish Joint Distribution Committee

9. American Sephardi Federation

10. American Zionist Movement

11. Americans for Peace Now

12. AMIT

13. Anti-Defamation League

14. Association of Reform Zionist of America

15. B’nai B’rith International

16. Bnai Zion

17. Central Committee of American Rabbis

18. Committee for Accuracy in Middle East Reporting in America

19. Development Corporation for Israel/State of Israel Bonds

20. Emunah of America

21. Friends of Israel Defense Forces

22. Hadassah, Women’s Zionist Organization of America

23. Hebrew Immigrant Aid Society

24. Hillel: The Foundation of Jewish Campus Life

25. Jewish Community Centers Association

26. Jewish Council for Public Affairs

27. Jewish Institute for National Security Affairs

28. Jewish Labor Committee

29. Jewish National Fund

30. Jewish Reconstructionist Federation

31. Jewish War Veterans of the USA

32. Jewish Women International

33. MERCAZ USA, Zionist Organization of the Conservative Movement

34. NA’AMAT USA

35. NCSJ: Advocates on behalf of Jews in Russia, Ukraine, the Baltic States and Eurasia

36. National Council of Jewish Women

37. National Council of Young Israel

38. ORT America

39. Rabbinical Assembly

40. Rabbinical Council of America

41. Religious Zionist of America

42. Union for Reform Judaism

43. Union of Orthodox Jewish Congregations of America

44. United Jewish Communities

45. United Synagogue of Conservative Judaism

46. WIZO

47. Women’s League for Conservative Judaism

48. Women of Reform Judaism

49. Workmen’s Circle

50. World Zionist Executive, US

51. Zionist Organization of America

Appendiks 2. Statistik Akibat Agresi Militer Israel ke Gaza, dari www.pcbs.gov.ps dan berbagai NGO:

  • 1,334 tewas, sepertiganya anak-anak (yang jumlahnya lebih dari militant Hamas yang terbunuh)
  • 5,450 luka-luka, sepertiganya anak-anak
  • 100,000 mengungsi, 50,000 kehilangan tempat tinggal
  • 4,100 pemukiman dan perumahan hancur, 17,000 rusak (digabung menjadi 14% dari seluruh bangunan di Gaza rusak dan hancur)
  • 29 institusi pendidikan hancur, termasuk American International School, Sekolah Internasional Amerika
  • 92 masjid hancur dan rusak
  • 1,500 toko, pabrik dan fasilitas komersia hancur. 20 destroyed ambulances
  • 35-60% tanah pertanian rusak
  • $1.9 Miliar kerugian (taksiran)

Melihat statistic ini, sangat susah membayangkan kalau ini adalah murni isu politik, apalagi mempercayai narasi Israel yang digemakan oleh media diseluruh dunia, bahwa ini adalah “perang terhadap Hamas.” Sementara BBC kemarin menolak iklan kemanusiaan untuk Gaza, sehingga BBC mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Ini menunjukkan betapa kuatnya lobi Zionist di media mainstream barat (lihat: Israel Lobby).

Saturday, January 17, 2009

Is Israel using illegal weapons in its offensive on Gaza?

Dari Ha'aretz,

Reporter Ha'Aretz, Amira Hass, mengemukakan bahwa Israel menggunakan senjata yang dilarang hukum Internasional saat membantai warga Gaza. Senjata itu tidak muncul selama 8 tahun terakhir, dan hanya digunakan saat membantai Gaza. Senjata tersebut termasek Bom Fosfor yang dilarang PBB karena menimbulkan panas luar biasa.

Selengkapnya:

http://www.haaretz.com/hasen/spages/1055927.html

Wednesday, January 7, 2009

I want to be an Israeli but I only understand realities

By: Muhamad Nur Hidayat, Indonesia

January 5th, 2009

Israel is cool. Confidently massacring more than 500 Gazans within a week but it is supported by the world leaders, who are minority. It is as if Gaza children are worthless. And in fact, they are worthless compared to the existence of Israel. Gaza children are worthless because if they grow up, they will become “terrorists.” So what’s wrong to kill them all now before Israel “has another Holocaust”? Let their moms confused, cried and then silenced while picking up their kids’ body parts. "I will play music and celebrate what the Israeli air force is doing" said Ofer Shmerling, an Israeli military officer, as appeared in Al-Jazeera TV some days ago.

Israel’s Zionism is beautiful and awesome. It is superior. Nothing can’t stop it because it is God’s will. It uses “Apartheid” and “the way of transfer” to purify Palestine from Palestinians. Israel is a symbol of democracy, freedom, peace and advance culture. And now it is at “war” with Hamas, a terrorist group that comes out from the ground to obliterate Jews. Hamas is low, cruel, and barbaric. It is a compilation of jealous young people with the democracy, prosperity and the freedom of Israel. It has to launch home-industry-rockets to Israel to get attention. And recently it kills 4 innocent Israelis with its some hundreds Qassam rockets. Freedom and democracy are under attack!

Hamas is jealous with Israel’s democracy so that it won Palestinian election in 2006 and controlled Gaza in 2007. This cannot be tolerated, you know. It is against its very nature. For Zionists’ God, it is a sin. Therefore, Israel has to take noble action to blockade Gaza. It cuts off supplies of snacks, pizzas and Cokes to Gaza (including unnecessary stuff like electricity, gas, and medicines which are barely needed by Gazans). It also cuts off supplies of cameras, journalists and Jews, like Richard Falk. It also cuts off supplies of refugees to Egypt. It has to bomb tunnels to Egypt usually used to smuggle Cokes and pizzas and all civilized stuff. It eases the work of Gazans doctors and nurses because they don’t have to cure people with civilized medicines. Just let them rot as they should. It’s their very nature, you know. But Gazans can’t help being jealous. So Israel has to introduce its civilized bullets and bombs to Gazans. It is noble thing to do, man. “Here you are some American-made bullets, bombs, F-16 and Apaches in case you haven’t seen them.”

But Hamas gets more jealous. It needs more than they deserve. So, again, it launches rockets made in garages to Israeli lands so that all Israeli have to take refuge to the Mediterranean Sea. Since their rockets are not made in America, so they are not effective to kill people. “But they are intended to kill!” says Olmert. So Israel drops tons of bombs to mock Hamas. It costs some 500 people including some 100 children. But remember, it is not intended to kill, it is for peace, justice, freedom, prosperity, stability and democracy. It must be ideals, you know. Realities are nonsense! Cogito ergo sum. This table is not red, man. It’s just your mind that says it’s red. C’mon! So 500 casualties are just nothing. Just think of the beauty of democracy!

And then America has to be patient to see the stupid Hamas, so that it has to ask Israel to teach Hamas a lesson. Yesterday, I asked my lecturer about his opinion on America’s support to Israel. He said, “Israel is America’s nephew. So it’s a family, you know. It’s just natural.” But I became really confused, probably because of my inferiority. He holds a Ph.D. And then when asked him the reason of Israel’s attack on Gaza, he answered, “Complicated.” And I became more and more confused. I don’t understand the meaning of the answers. I only understand that tearing apart people’s bodies is wrong (or at least, weird). Bombing children coming home from school is also wrong (or weirder). And then, bombing mosques is also really really weird. Or bombing Islamic Unversity in Gaza and apartments full of living humans is extremely weird (if not wrong). For me, it is as weird as bombing a zoo or public toilets. Why I only understand that? Is it because of my ethnic and racial inferiority, so that I don’t understand my lecturer’s answers? Or because my name is Muhamad?

Probably because my lecturer has acquired higher education so that I don’t understand him, as I don’t understand Obama (who has also acquired higher education). Obama said “no comment” when asked his opinion about Israel’s bombing which was pretty much look like new-year fireworks. I am confused by his answer the same as I am confused by my lecturer’s answer. Why am I confused? Why I expected different kind of answers? Something like, “It’s weird to bomb mosques.”

During his visit to Israel, Obama said, "If somebody shot rockets at my house where my two daughters were sleeping at night, I'd do everything in my power to stop them." So if somebody shot home-made rockets to Obama’s house, he will do whatever things to do to stop them. This is natural but it is another confusing thing for me. Probably because I’m not an idealistic person. I cannot imagine how Obama’s house where his two children sleep is bombed. But why I only understand realities? Why I only understand that Israel really shot civilized rockets at real houses where real children slept? Not Obama’s children? Why I can’t imagine somebody really shot rockets at Obama’s house where his real children slept? Why? Why I expected something different coming from Obama’s mouth?

Oh yeah. I know the answer. Because I’m inferior. I’m not smart. I don’t have Ph.D degree or something. And because I’m jealous to Israel’s superiority, freedom, peace, and moral integrity. Yes, I’m jealous, the same as Arabs and the rest of the world (except some few highly civilized and enlightened Americans and Israelis). I’m jealous to their confidence and passion in breaking international laws. The laws for lesser creatures. Oh help me my friends. Help me out this inferiority, stupidity and craziness.

I WANT TO BE AN ISRAELI!!!!

So that I can be smart. So that I can tolerate all this bombing and killing of real children (not Obama’s children). So that I can tolerate bombing of houses, mosques, universities. So that I’m satisfied to see mothers cry, get confused and go crazy while picking up their children’s body parts. So that I can play music and celebrate Israel’s attack. So that I can be superior and above the law.

But why I only understand realities?

Muhamad Nur Hidayat is a desperate young political analyst based in Yogyakarta, Indonesia. He can be reached at muhamadhidayat@hotmail.com. His blogs are: www.enunggling.multiply.com and www.altermedianet.blogspot.com

Saya ingin jadi orang Israel

Oleh: Muhamad Nur Hidayat

5 Januari 2008

Israel memang hebat. Membunuh lebih dari 500 warga Gaza namun mendapat support dari pemimpin-pemimpin dunia yang jumlahnya sedikit. Seakan-akan nyawa anak-anak Gaza tidak ada artinya. Dan terntyata memang tidak ada artinya bagi “kelangsungan hidup” Israel. Mereka berpikir toh nanti kalau besar, anak-anak Gaza akan menjadi “teroris,” jadi apa salahnya kalau dibunuh sekarang, sebelum mereka “melakukan Holocaust lagi”. Biarkan ibu-ibu mereka bingung, menjerit, kemudian membisu serambi memungut sisa-sisa potongan tubuh anak-anaknya yang beruntung terkena cluster bomb nya Israel. “Saya akan mendengarkan musik dan merayakan serangan udara Israel ke Gaza” kata Ofer Shmerling, seorang pegawai pertahanan sipil Israel di Sderot, seperti muncul dalam siaran TV Al Jazeera 27 Desember 2008.

Israel (Zionisme, bukan Yahudi) memang anggun dan superior. Pemimpin dunia, dan pilihan Tuhan, jadi tidak ada hukum manusia yang bisa menghentikan idealisme Zionisme. Zionisme menghendaki pemurnian seluruh wilayah yang dulu disebut Palestina dari kotoran-kotoran Arab yang inferior, sehingga menjadi Eretz Israel, Israel Raya. Kata Benny Morris, sejarawan Israel, pemurnian itu dengan dua cara: “Apartheid” dan “The way of transfer,” istilah lunaknya dari pembantaian etnis lewat Apartheid dan pengusiran (pematian) secara paksa. Israel adalah demokrasi, simbol kebebasan, perdamaian, dan kemajuan jaman. Dan mereka sedang “berperang” dengan Hamas, si teroris yang muncul dari dalam tanah untuk membunuh semua warga Israel. Hamas benar-benar biadab, barbar. Kumpulan orang-orang bodoh yang iri dengan demokrasi dan kebebasan Israel (yang benar-benar bebas tanpa bisa diatur), sehingga mereka harus unjuk gigi dengan menembakkan roket buatan industri rumahan ke wilayah Israel. Dan Hamas telah menewaskan 4 warga Israel yang tak berdosa, dari 300 lebih roket mainan yang diluncurkannya.

Hamas iri dengan demokrasi Israel sehingga ia menang mutlak dalam pemilu Palestina 2006. Dan ini tidak bisa diampuni. Kesalahan besar. Dosa bagi Tuhan Zionisme. Sehingga Israel terpanggil untuk segera bertindak dengan memblokade Gaza selama dua bulan, menstop suplai lotek, arem-arem, wedang jahe, gorengan, obat sakit kepala (yang tertembak), kain mori, lem, kertas dan segalanya (termasuk yang tidak dibutuhkan warga Gaza, seperti listrik, gas, bensin yang memberi penerangan ke wilayah Gaza). Jurnalis dan utusan PBB dan Paus juga dilarang masuk. Sedangkan yang didalam dilarang keluar. Terowongan ke Mesir tempat menyelundupkan obat sakit kepala tadi harus dibom, sehingga perawat, dokter “rumah sakit” Gaza tidak harus mengobati sakit kepala ribuan warga Gaza. “Toh mereka nanti juga jadi teroris.” Mau sakit (tertembak di) kepala kek, sakit (tertembak di) perut kek, di tangan kek, dikaki kek. Terserah.

Lalu Hamas iri lagi dengan keanggunan Israel, sehingga ia harus protes dan meluncurkan roket-roket nuklir yang dibuat di garasi rumah ke wilayah Israel sehingga semua warga Israel harus mengungsi ke laut. Hamas iri karena roket-roketan nuklir mereka bukan buatan Amerika, sehingga tidak efektif. Cuma mematikan satu orang dalam beberapa tahun. Namun kata Olmert “Walaupun roket-roket Hamas jarang mengenai sasaran, tapi kan niatnya untuk membunuh![1].” Sedangkan walaupun Israel mematikan 560 warga Gaza dalam seminggu, tapi kan niatnya untuk kebaikan—demokrasi, perdamaian, dan kebebasan. Pokoke harus idealis. Cogito ergo sum! Realitas itu nggak ada, adanya cuma pikiran, goblok! 560 orang hilang nyawa juga tidak ada, cuma di pikiran kamu saja, goblok!

Kemudian Amerika juga terpanggil untuk membantu Israel dalam mengemban tugas suci tersebut. Kata dosen saya kemarin siang ketika saya tanya pendapat beliau tentang support Amerika ke Israel, “Lho Israel kan ponakannya Amerika. Kita semua ini adalah satu keluarga. Jadi itu wajar.” Betapa kaget dan dungunya saya karena tidak paham apa maksud beliau. Lalu ketika saya tanya lagi tentang mengapa Israel berniat baik untuk memurnikan Gaza, ia menjawab, “Rumit.” Dan betapa lebih dungunya saya ketika tidak bisa paham juga apa maksud jawaban beliau. Saya cuma paham kalau mencabik-cabik tubuh orang dengan bom itu salah (setidaknya aneh, begitu). Membom kerumunan anak yang sedang pulang sekolah itu salah (atau setidaknya lebih aneh lagi). Kemudian membom masjid-masjid itu juga setidaknya sangat aneh. Atau membom Universitas Islam Gaza, apartemen yang berisi manusia itu juga sangat aneh (kalau belum bisa dibilang salah), seaneh membom UGM, Sanata Dharma dan rumah Mbah Maridjan. Apakah inferioritas ras saya yang menyebabkan saya tidak paham dengan jawaban beliau? Atau karena nama saya berbau Arab (Muhamad Nur Hidayat) yang terkenal barbar, despotik, tidak demokratis, kejam dan terbelakang? Dengan standar moral Israel tentu jawabannya iya. Ehud Olmert ngomong ke saya: “Goblok banget kamu Yat, baik dan buruk gak bisa bedain! Orang Arab ya!?” Kata filsafat, baik itu ya buruk, buruk itu ya baik. Yang buruk bisa baik, yang baik bisa buruk.

Mungkin karena dosen ini sudah S-3, jadi saya tidak bisa mencerna omongan beliau, sebagaimana saya juga tidak bisa mencerna omongan Obama (yang minimal telah lulus S-2, sedangkan petinggi Hamas, namanya pak Rayan, yang kemarin dibom Israel bersama 4 orang istri dan 11 anaknya yang mati semua itu adalah seorang professor hukum). Padahal Obama bilang “no comment” saat ditanya wartawan, satu jam setelah pesawat tempur F-16 dan heli Apache Israel berhasil masuk Gaza dan menelurkan bom-bom yang ledakannya kelihatan indah, mirip kembang api tahun baru. Kalau gak percaya lihat YouTube. Sebelumnya, saat Obama berkunjung ke Israel (namun menolak komentar dan singgah di Palestina), ia berkata:

"If somebody shot rockets at my house where my two daughters were sleeping at night, I'd do everything in my power to stop them." (www.informationclearinghouse.info/article21585.htm)

“Jika seseorang menembakkan roket ke rumah saya tempat kedua anak saya tidur, saya akan melakukan apapun dengan kekuatan saya untuk menghentikan mereka.”

(sengaja pake bahasa Inggris, biar kelihatan pinter, karena saya juga iri dengan kepinteran orang Israel).

Yang dimaksud Obama dengan “roket yang ditembakkan ke rumahnya diamana dua orang anaknya sedang tidur” itu tentu saya roketnya Hamas. Nah disini saya bingung lagi, seperti saya bingung dengan jawaban “rumit” dari dosen saya tadi. Saya malu mengapa saya sebebal ini sehingga saya tidak paham dengan omongan mereka. Dan mengapa saya hanya paham kalau Israel bersalah karena ia juga meluncurkan roket (yang super canggih buatan Amerika, tidak seperti roket kerajinan tangan Hamas) yang benar-benar mengenai anak-anak yang sedang tidur dan telah menewaskan 560 orang lebih, 100 diantaranya anak-anak? Mengapa saya hanya paham itu? Mengapa kata “rumit” dan kata Obama tadi seakan-akan bukan jawaban yang saya harapkan? Apakah saya sudah gila sehingga begitu gobloknya, sehingga tidak paham jawaban orang pintar? Padahal kan saya sudah besar, hampir sarjana S-1 pendidikan Bahasa Inggris, sudah pernah ke Amerika lagi. Padahal waktu SMP saya kan rengking satu terus, walaupun tidak pernah berangkat Pramuka. Atau mungkin karena dosen S-3 dan Obama S-2 dulu rajin Pramuka ya? Orang Israel mungkin rajin Pramuka sehingga mereka sangat pandai dan superior (kayak mi instant) dan kebal hukum manusia.

Tolong teman-teman! Tolong saya dari kegilaan dan kegoblokan ini. Untung saya tidak punya pacar. Mungkin pacar saya bisa ikut-ikutan goblok dan gila bersama saya.

SAYA INGIN JADI ORANG ISRAEL!!!!.

Sehingga saya bisa jadi orang pintar, jenius, superior (kayak mi instant), dan mampu mentoleransi pemboman anak-anak kecil, masjid, gereja, universitas, rumah-rumah tempatnya tidur anak-anak beneran (bukan anaknya Obama); puas melihat ibu-ibu yang hampir gila sembari memungut potongan tubuh anaknya, kebal hukum internasional, percaya diri mengemban tugas suci memurnikan Palestina dari racun dan kotoran bangsa Palestina sendiri, bahagia melihat orang menangis sampai matanya kering sambil mendengarkan musik dan merayakan serangan Israel ke Gaza, senang melihat kecanggihan bom-bom Israel yang mendarat di kerumunan anak-anak sekolah, bangga sebagai ras terpilih dan menjadi sahabat Amerika. Singkatnya saya ingin menjadi orang pintar Israel yang tidak bisa dipahami orang lain di seluruh dunia (kecuali oleh orang yang pintar juga). Saya ingin berkata “rumit” sehingga orang lain tidak paham. Oh… saya tahu solusinya. Cari pacar cewek Israel saja! Biar ketularan pinter.

Kalau saya sudah jadi orang Israel, nama saya (Muhamad Nur Hidayat) akan saya ganti sehingga tidak berbau Arab, inferior, barbar, bebal, dungu, Islam dan ras terbelakang. Nama saya akan saya ganti: “ Ehud Eliad Gilad Dayad Ghetto.” Wuihh… Surgawi!

“Saya akan mendengarkan musik dan merayakan serangan Israel ke Gaza”

Hidayat, 30 Desember 2008

"I will play music and celebrate what the Israeli air force is doing."

--Ofer Shmerling, seorang pegawai pertahanan sipil Israel di Sderot, seperti muncul dalam siaran TV Al Jazeera 27 Desember 2008.

Pernyataan Ofer Shmerling tadi digemakan ke seluruh dunia oleh Israel (yang menguasai sebagian besar media elit di Amerika dan Inggris), bahwa serangan brutal ini adalah sebuah “righteous violence” atau kekacauan yang dibenarkan. Ini adalah serangan “pertahanan diri” dari para “teroris keji.” Singkatnya, pemboman ini adalah “bombing for freedom, peace and democracy” atau “pemboman untuk kebebasan, perdamaian dan demokrasi.”

Setelah ngampet dan cari-cari alasan, akhirnya Israel melakukan serangan terbuka ke wilayah Gaza Palestina. Natal, tahun baru Hijriyah, dan tutup tahun di Gaza di warnai dengan jatuhnya lebih dari 390 korban sipil (dan terus bertambah—31 Desember 2008) akibat serangan udara militer Israel—serangan terbesar selama beberapa decade terakhir—yang kata Menlu Israel Tzipi Livni adalah untuk “melumpuhkan Hamas” dan “sebagai balasan atas serangan roket Hamas ke wilayah selatan Israel” (yang menewaskan 1 warga sipil Israel).

Pesawat F-16 dan helicopter Apache (bantuan Amerika) telah menjatuhkan lebih dari 100 ton bom ke “target-target Hamas”, yang maksudnya tentunya: masjid, sekolah, apartemen, dan rumah-rumah penduduk. Dilaporkan korban sebagian besar adalah warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan disamping polisi sipil Palestina. Sementara Israel, lewat channel media besar berbahasa Inggrisnya di Barat, bersikukuh kalau serangan ini adalah serangan “balasan.”

Satu-satunya “rumah sakit” (kalau boleh dibilang begitu) di Gaza telah penuh dan terpaksa mengeluarkan pasiennya untuk diganti dengan korban serangan Israel. Kamar-kamar mayat sudah penuh berjejalan tubuh-tubuh dan potongan-potongannya. Sementara itu ibu-ibu berteriak-teriak histeris kemudian diam membisu. Kemarahan luar biasa menyelimuti warga Gaza dan Palestina. Namun di satu sisi politik Israel berhasil membuat warga Gaza putus asa dan mereduksi mereka ke level hidup atau mati.

Serangan ini adalah bentuk metode lain yang dilancarkan oleh politik Zionisme Israel, dari “silent genocide” ke “open massacre,” dari genosida tersembunyi ke pembantaian massal secara terbuka, untuk semakin mempersempit gerak warga Palestina dan mencaplok seluruh wilayahnya. Seperti dinyatakan oleh Ali Abuminah, penulis One Country: A Bold Proposal to End the Israeli-Palestinian Impasse (Metropolitan Books, 2006) dan pendiri The Electronic Intifada, serangan ini merupakan kelanjutan dari apa yang oleh media disebut sebagai “gencatan senjata.” Namun, yang tidak dipertanyakan oleh media besar Barat berbahasa Inggris adalah konsep “gencatan senjata” Israel, yang berarti: warga Palestina berhak diam ketika Israel mencaplok tanah mereka, menghancurkan rumah, membuat pemukiman illegal, membuat tembok rasisme apartheid, membunuh warga Palestina lewat blockade militer, menghentikan supplai bantuan internasional ke Gaza, mematikan aliran listrik, air dan bahan bakar, menghentikan bantuan pangan PBB sehingga saat Eid dan Natal warga Gaza harus makan rumput, menguras habis kesabaran dan kewarasan penduduk Palestina. Itulah konsep sebenarnya dari “gencatan senjata.” Dan ketika bangsa Palestina sudah tidak tahan dipermalukan, Israel menghukum mereka dengan serangan udara terbuka yang, menurut Jerusalem Post (26 Desember 2008), melibatkan lebih dari 60 pesawat tempur F-16 dan helicopter Apache (bantuan Amerika) dan menjatuhkan lebih dari 100 ton bom ke area yang sepenuhnya tidak punya pertahanan militer yang signifikan. Sementara pemimpin negara-negara Arab (kecuali Iran, Syria dan Sudan) memilih diam seakan-akan rakyatnya bodoh tidak tahu apa-apa dan seakan-akan kekuasaan tidak poluler mereka akan langgeng.

Dan seperti dinyatakan oleh Menteri Pertahanan Israel, Ehud barak, aksi militer ini akan terus berlangsung dengan serangan darat menggunakan ratusan tank yang sudah berjajar di perbatasan Gaza, disamping kecaman seluruh dunia (catatan: Palestina tidak memiliki satu tank pun). “The operation will be deeper and expanded as much as necessary. . . . It won’t be short, and it won’t be easy.” Operasi ini akan diperluas dan akan memakan waktu yang lama. Dan alasannya selalu klasik: untuk menciptakan perdamaian, keamanan dan demokrasi.

Politik Zionisme memang menghendaki aksi-aksi seperti ini, kata sejarawan Israel Benny Morris. Diperlukan dua metode, “the way of transfer” (pengusiran) dan “ethnic cleansing” (pemusnahan etnis) untuk memurnikan Palestina dari warga Arab. Dan dua-duanya telah dan sedang terjadi dan akan terjadi (bila pemimpin dunia dan terutama Amerika tetap diam saja).

Sementara itu kemarin Amerika memveto resolusi Anti-Israel PBB yang akan dikeluarkan Dewan Keamanan PBB. Ini menambah daftar panjang Amerika yang sudah memveto lebih dari 40 resolusi Anti-Israel PBB sejak tahun 1972. Amerika lewat dubesnya untuk PBB beralasan bahwa “Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri.” Fuck!!! Mempertahankan diri dari nyamuk? Bush malah menyalahkan Hamas atas serangan ini. Diakhir masa jabatannya, si lame duck ini semakin tidak populer dengan menomorsatukan Israel dan menomor kesekiankan opini publik Amerika sendiri. Sementara itu, analis progresif Paul Craig Roberts menyatakan bahwa Israel telah melanggar hukum internasional sejak tahun 1967 dengan melakukan aksi “kejam, tidak berperikemanusiaan, barbar dan illegal” mereka.

Analis media liberal Israel Haaretz, Gideon Levy, 29 December 2008 menyatakan bahwa andaikata Israel memang mempunyai justifikasi atas serangan ini, respon Israel ini melebihi proporsi dan “melewati batas kemanusiaan, moralitas, hukum internasional dan keadilan.” “What began yesterday in Gaza is a war crime and the foolishness of a country”, kata Levy. Apa yang terjadi kemarin di gaza adalah kejahatan perang dan kebodohan yang dilakukan suatu negara. Ironi sejarah terulang bagi Israel yang dua bulan setelah pendiriannya, ia memulai perang besar, dan dua bulan sebelum pemerintahan Israel saat ini berakhir, ia juga memulai perang. Levy menambahkan, ini bukti betapa kontradiktif dan hipokrit Israel itu sendiri. Di satu sisi industri public relations Israel yang menyusup ke media-media besar selalu berkoar kalau Israel adalah negara cinta damai dan demokrasi namun kelakuannya sepenuhnya berkebalikan dengan omongannya. Ia menambahkan, aksi Israel ini malah akan memperkuat Hamas (yang sudah menyerukan gencatan senjata namun ditolak mentah-mentah oleh Israel), seperti juga Hezbollah yang menjadi semakin kuat dan populer setelah Israel menyerang Lebanon dua tahun lalu (yang mengakibatkan lebih dari 1000 korban sipil.

Sebagai catatan, Amerika, Israel dan Inggris pada tahun 2006 menuntut Palestina melaksanakan pemilu yang demokratis dan adil. Pemilu yang memang demokratis dan adil menurut observer internasional (PBB) itu memunculkan Hamas sebagai pemenang. Namun setelah Hamas terpilih secara demokratis (dipilih mayoritas rakyat Palestina), Palestina malah dihukum dengan blockade militer dan ekonomi, yang oleh PBB disebut sebagai “collective punishment” (hukuman kolektif), istilah yang mengacu pada politik menghukum seluruh warga Palestina karena “kesalahan” Hamas yang menang pemilu (seperti terjadi juga di Kuba). Collective punishment melanggar hukum internasional dan yang melaksanakannya bisa di gantung pengadilan Nuremberg (pengadilan bagi pemimpin Nazi) sebagai penjahat perang.

Sementara itu seluruh dunia mengecam pembantaian massal Israel. Protes besar-besaran terjadi di Inggris, Berlin, Athena, Roma, New York dan di tempat-tempat lainya. Aksi solidaritas juga terjadi di Havana dan Caracas disamping protes di Timur Tengah dan Asia. Paus Benedictus mendesak Israel segera menghentikan kekerasan terhadap warga sipil. Namun, seperti biasa, Israel, Amerika dan Inggris tentu tidak menghiraukan omongan orang tua ini.

Yang menggelikan dan tidak tahu malu tentunya adalah presiden terpilih Obama dan menlu nya, Hillary Clinton, yang memilih diam saja melihat serangan ini (ironis dengan semboyannya “Change we can believe in”). Sayangnya publik dunia terlena dengan ilusi “change” nya Obama dan melewatkan fakta bahwa tim pemerintahan Obama dijejali pejabat-pejabat Israel Lobby.

Bagi Amerika dan Inggris, Israel tidak bisa berbuat salah. Israel tidak harus membuka blokadenya, membiarkan bantuan pangan, medis, listrik, minyak, air masuk Gaza, membunuh anak-anak Palestina, namun Hamas harus menghentikan serangan roket Qossam buatan rumahan mereka. Begitulah gambaran superioritas moral Amerika dan Inggris. Seperti kata Hanan Ashrawi, aktivis HAM Amerika, “Israel sudah terbiasa dibiarkan untuk tidak mempertanggung jawabkan kelakuannya dan berada diatas segala hukum.”

Sebenarnya aksi militer Israel ini sudah diperkirakan akan terjadi. Uskup Episkopal Washington DC, John Bryson Chane, dalam khotbahnya 5 Oktober lalu sudah mewanti-wanti pemimpin dunia untuk berani bertindak, berteriak dan mengecam “pelanggaran HAM berat dan penolakan hak kebebasan beragama bagi warga Kristiani dan Muslim Palestina” oleh Israel yang sudah berlangsung selama 60 tahun. Namun seruan uskup Washington itu tidak diacuhkan oleh pemimpin baru Amerika yang mengusung semboyan “change” itu. Ketika mendapat informasi tentang serangan udara Israel ini, Obama berkata “no comment” pada media.

Pemimpin-pemimpin Amerika (baik Republikan maupun Demokrat) tercatat selalu membela Israel, termasuk Obama dan pejabat-pejabat pemerintahannya[1]. Tendensi pro-Israel pemimpin-pemimpin Amerika ini diakibatkan kedekatan mereka dengan kelompok Kristen Evangelical di Amerika (yang kemudian menjadi Christian-Zionist), yang juga sekutu dan pendukung utama Israel. Bagi mereka, aksi Israel sudah pas dengan yang digariskan di Perjanjian Lama. Disamping itu terdapat kekuatan besar Israel Lobby yang menguasai konggres Amerika di Washington.

Namun kedekatan itu bukan tanpa tantangan. Kelompok umat Kristiani yang tergabung dalam Gereja Presbyterian muak dengan aksi biadap Israel, sehingga beberapa tahun yang lalu, Gereja Presbyterian Amerika berkampanye untuk menarik segala investasi warga Amerika di perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan Israel. Namun aksi tersebut dikalahkan oleh kuatnya Israel Lobby. Analis Paul Craig Roberts, mengatakan, “Gereja Presbyterian tidak kuasa dalam memperjuangkan prinsip-prinsip Kristiani karena dipukul oleh Israel Lobby.” Dan itu tidak mengherankan, kata Roberts, karena “pemerintah Amerika juga tidak melaksanakan prinsip-prinsip Kristiani itu.”

Wacana Israel-Palestina juga diangkat oleh Capres independen dan Green, Ralph Nader dan Cynthia McKinney. Namun tentu saja mereka tidak laku di media besar (yang telah menjadi bagian dari sistem yang akan melanggengkan kekuasaan itu sendiri). Malah, berita terakhir, Capres Amerika 2008 dan aktivis Cynthia McKinney diserang Israel saat akan memasuki Gaza dengan kapal kecil yang membawa obat-obatan dan aktivis HAM Amerika.

Kekejaman Israel ini, di satu sisi membuat saya semakin optimis. Seperti kata analis politik progresif Amerika, Noam Chomsky, sejarah membuktikan bahwa setiap “empire” atau kekuatan yang selalu menghamba pada kekuasaan, dan mengabaikan prinsip-prinsip moral dasar universal yang dianut semua bangsa, pada akhirnya akan runtuh. Kekaisaran Tsar Russia, Soviet, kekaisaran Inggris, Portugis, Spanyol, Hitler, Nero, Suharto, Pinochet, dan masih banyak lagi adalah contohnya. Amerika dan Israel, menurut Chomsky, juga tidak akan terlepas dari hukum ini. Dan tanda-tanda keruntuhannya semakin jelas. Amerika, Israel, Inggris adalah negara-negara yang kebijakannya semakin tidak populer di mata dunia (seluruh negara anggota PBB kecuali ketiga negara itu), bahkan juga dimata rakyatnya sendiri. Protes dan aktivisme merebak dan muncul dimana-mana. Masyarakat luas semakin mudah mengakses informasi dan berinteraksi lewat media alternatif di internet. Bagaimanapun juga, Bush, Olmert, Livni, Ehud Barak, Netanyahu, Obama, Hillary dkk adalah minoritas di dunia ini. Dan sampai kapan mereka akan bertahan?

Sekarang sudah saatnya melampiaskan emosi kita dengan aksi yang nyata dan komitmen untuk melawan aksi Israel. Program Boycott, Divestment and Sanctions Movement for Palestine (http://www.bdsmovement.net/) memberikan jalan bagi kita untuk berbuat sesuatu.

Beberapa sumber-sumber tulisan bisa diakses di:

  1. Paul Craig Roberts, May We No Longer Be Silent. ICH 28 Desember 2008. http://www.informationclearinghouse.info/article21566.htm

  1. Amira Hass, 'Gaza strike is not against Hamas, it's against all Palestinians.' Ha’aretz 29 Desember 2008. http://www.haaretz.com/hasen/spages/1050688.html

  1. Gideon Levy, The Neighborhood Bully Strikes Again. Ha’aretz 29 Desember 2008. http://www.haaretz.com/hasen/spages/1050459.html

  1. Peter Beaumont, To Be In Gaza Is To Be Trapped, The Guardian. The Guardian Inggris 29 Desember 2008. http://www.guardian.co.uk/world/2008/dec/27/israelandthepalestinians-terrorism

  1. US Veto Blocks UN Anti-Israel Resolution, Press TV 28 Desember 2008. http://www.presstv.com/detail.aspx?id=79727&sectionid=351020202

  1. Matthew Rothschild, Bush Winks at Israel’s Slaughter in Gaza, While Obama and Clinton Are Silent. The Progressive 27 Desember 2008. http://www.progressive.org/mag/wx122708.html

  1. Amira Hass, Christmas In Gaza : No More Room In The Morgue. 'Little Baghdad' in Gaza - Bombs, Fear and Rage. Ha’aretz 28 Desember 2008. http://www.haaretz.com/hasen/spages/1050636.html

  1. Eyewitness: Chaos in Gaza. BBC 27 Desember 2008. dari ICH: http://www.informationclearinghouse.info/article21543.htm

  1. Ali Abunimah, Gaza Massacres Must Spur Us To Action. Electronic Intifada, ICH: http://www.informationclearinghouse.info/article21545.htm

  1. Israeli Attack on Gaza, Kills 195. Press TV 27 Desember 2008. http://www.presstv.com/detail.aspx?id=79641&sectionid=351020202

  1. More Than 200 Killed As Israel Drops 100 Tons Of Bombs In Gaza City. BBC, VOA, ICH. http://www.informationclearinghouse.info/article21546.htm

  1. Untuk selengkapnya baca artikel di http://www.informationclearinghouse.info/ dan ikuti links nya.


[1] Lihat tulisan saya “Obama dan penjahat-penjahat di pemerintahannya” di altermedianet.blogspot.com

Tuesday, December 9, 2008

Obama dan penjahat-penjahat di pemerintahanya

Oleh Hidayat dari enunggling.multiply.com

Oleh Hidayat

Selesai 8 Desember 2008

Obama lagi Obama lagi. Biar tidak lupa. Biasanya setelah senang-senang terus lupa. Setelah senang-senang dengan Obama, terus lupa nagih janjinya beliau. Ada tulisan yang sangat menarik dari Chris Hedges[1] berjudul “America the Illiterate” (www.informationclearinghouse.info/21239.htm ), alias Amerika si “buta huruf”, yang memaparkan betapa rakyat Amerika (dan dunia) sekarang terbagi menjadi dua, yaitu mereka yang “melek huruf” dan yang “tidak.” Perbedaan ini melampaui sekedar perbedaan ras, agama, dan warna kulit. Mereka yang “melek huruf”, alias literate, yang tentu saja minoritas, berkutat di dunia yang berbasis tulisan (alias gemar membaca), yang dapat mencerna informasi dari teks, yang mampu berhubungan dengan kompleksitas fenomena dunia dan mempunyai alat intelektual untuk memisahkan mana yang ilusi dan mana yang kebenaran. Yang illiterate, alias “buta huruf” (baca: bisa tapi tidak mau membaca), yaitu mayoritas kita, hidup di dunia yang berbasis pada non-realitas, yang bergantung pada citra-citra yang dimanipulasi sebagai informasi. Mereka tidak bisa membedakan mana realitas dana mana ilusi.

Nah, apa hubunganya dengan Obama? Kampanye politik saat ini dibangun untuk menciptakan “empowerment”, alias penguat emosional yang tidak memerlukan ketrampilan pikiran kritis, kata Hedges. Nah ini lebih diminati banyak orang karena tidak harus berpikir untuk memilih sesuatu. Si “buta huruf” tadi lebih memilih ilusi-ilusi yang menyenangkan, lewat semboyan-semboyan kosong seperti “Change we can believe in”, “maverick”, “war on terror”, “support our troops”, “bersama kita bisa” dan lain-lain. Semboyan dan citra-citra menarik hati itu langsung mengena ke emosi kita bukan ke pikiran kita. Coba pikir saja, apa artinya, nanti pasti malah bingung sendiri. Nah dalam kasus ini yang paling berhasil memang Obama yang berjanji akan merubah segalanya. Sayang sekali itu cuma omong kosong. Mari kita lihat apa yang akan “dirubah” Obama.

Pertama kita lihat sudut pandang Obama tentang beberapa isu global yang sebenarnya tidak beda sama sekali dari pandangannya Bush, malah ada yang lebih parah (diambil dari artikel Jeremy Scahill, lihat footnote 2 atau end note):

- Obama akan memfokuskan pada peningkatan kekuatan untuk berperang di Afghanistan. Ia bahkan akan menambah pasukan si Afghanistan.

- Rencana di Irak yang akan tetap menempatkan pasukan Amerika sampai batas waktu yang tidak jelas

- Obama menyebut Pasukan Garda Revolusioner Iran sebagai “organisasi teroris”

- Dia juga berjanji akan menyerang Pakistan jika perlu untuk melumpuhkan Al Qaeda walau tanpa persetujuan Pakistan sendiri (invasi lagi)

- Posisi Obama di hadapan AIPAC (organisasi Israel lobby paling kuat di AS) untuk tidak membagi Jerusalem, atau menghadiahkan Jerusalem untuk Israel (lihat tulisan saya tentang AIPAC di www.enunggling.multiply.com atau www.altermedianet.blogspot.com serta footnotes nya)

- Obama berjanji untuk mensupport Israel tanpa syarat—mengabaikan bencana humanitarian di Gaza yang sekarang sedang terjadi. Israel telah dua minggu (dari tanggal 24 November 2008) menutup seluruh akses ke Gaza, termasuk bantuan pangan PBB dan minyak dari Uni Eropa, dan bahkan menolak utusan khusus Paus Benedictus untuk warga Katholik Gaza yang juga tidak diijinkan untuk melakukan misa hari Minggu (lihat berita di www.altermedianet.blogspot.com). Warga Gaza yang 50% lebih adalah anak berusia 15 tahun ke bawah sekarang ditolak hak-hak dasarnya. Dan si presiden Hitam ini diam saja, pura-pura tidak tahu, sebagaimana semua media mainstream di dunia, termasuk Kompas dan kawan-kawan[2] yang cari aman dengan berlunak-lunak, seakan-akan semua orang bodoh.

- Rencana Obama untuk melanjutkan “perang melawan obat bius” yang sudah dilakukan Bush, yang sebenarnya hanya alasan untuk mengintervensi negara-negara Amerika Latin terutama untuk menumbangkan pemerintahan Evo Morales di Bolivia saat ini.

- Setujunya Obama pada Bush untuk mensubsidi perusahaan-perusahaan raksasa Amerika sejumlah 700 miliar dolar untuk “mengatasi” krisis ekonomi (lihat artikel saya “Presiden Obama ‘Anak Menteng’ yang sama gilanya dengan pendahulunya” di www.altermedianet.blogspot.com )

- Obama akan meningkatkan anggaran militer Amerika yang sekarang saja sudah tidak bisa dilampaui negara manapun

Dari situ saja sudah kelihatan kalau Obama memang tidak menjanjikan perubahan yang signifikan. Dan ini sangat mengherankan. Memang ia berencana menutup penjara Guantanamo, yang memang sudah kelewatan memalukan rekornya. Tapi kebijakan luar negerinya secara umum akan tetap dikuasai lobi-lobi Israel, alias tidak akan terjadi apa-apa secara signifikan dalam isu-isu penting global.

Kemudian kedua, dilihat dari pejabat-pejabat yang akan duduk di cabinet dan pembantu-pembantu Obama saja sudah bisa di pastikan kalau kebijakan (luar negeri) Obama akan sama saja dengan Bush dkk. Kita lihat siapa yang ada didalamnya[3]:

  1. Joe Biden

Joe Biden adalah wakil AIPAC di pemerintahan Obama yang akan memiliki peran paling kuat dalam mempengaruhi kebijakan Obama karena ia adalah wakil presiden Obama. Dia pernah menghalangi dua pejabat PBB untuk urusan inspeksi senjata untuk bersaksi didepan juri untuk memutuskan apakah Amerika akan menyerang Irak atau tidak di tahun 2003. Mereka berdua adalah Scott Ritter mantan kepala United Nations Weapons Inspector, dan Hans von Sponeck, mantan veteran yang mengurusi program PBB untuk Irak. Scahill menyatakan bahwa mereka berdua adalah orang yang paling tahu tentang persenjataan Irak, yang akhirnya menyimpulkan kalau Irak tidak memiliki program nuklir dan senjata pemusnah massal, seperti sekarang juga tidak terbukti. Bahkan von Sponeck menulis di Op-Ed News di tahun 2002 yang menyatakan kalau baik Departemen Pertahanan Amerika dan CIA tahu benar kalau Irak bukanlah sebuah ancaman.

Justru Bidenlah yang ngotot saat itu kalau perang Irak adalah sebuah kesimpulan. Biden juga setia terhadap Israel dengan mengaku sebagai seorang Zionis di Shalom TV Israel (lihat tulisan sebelumnya tentang Obama di www.altermedianet.blogspot.com dan www.enunggling.multiply.com )

2. Rahm Emmanuel.

Dia telah ditunjuk Obama menjadi Chief Of Staff (Kepala Staf) pemerintahan nanti. Rahm Emmanuel juga seorang pro-Israel sejati seperti Biden. Dia memiliki dua kewarganegaraan, Israel dan Amerika dan “born-Zionist) atau terlahir Zionis. Ia menjadi sukarelawan untuk membantu militer Israel saat Perang Teluk 1991. Dia juga mantan penasehat Clinton dan satu-satunya anggota konggres dari Partai Demokrat Illinois yang setuju dengan perang Irak. Dia juga mengusulkan untuk menambah lagi 100.000 pasukan Amerika dan berinisiatif untuk mengadakan wajib militer bagi warga AS yang berumur 18-25 tahun. Dia juga seorang inisiator kebijakan perdagangan bebas Clinton (NAFTA) yang sempat dikritik Obama.

Ayahnya seorang rasis sejati. Ketika Benjamin Emmanuel diwawancarai koran Israel Ma’ariv (www.informationclearinghouse.info/21298.htm)

, tentang apakan anaknya, Rahm, akan mempengaruhi Obama untuk pro-Israel, dia menjawab dengan pasti:

“Obviously he’ll influence the president to be pro-Israel…. What is he, an Arab? He’s not going to be mopping floors at the White House[4].”

“Tentu saja anak saya akan mempengaruhi Obama untuk pro-Israel…. Memangnya anda pikir dia [Rahm] siapa, orang Arab? Dia tidak akan menjadi pengepel lantai di Gedung Putih.” Dia merendahkan bangsa Arab sebagai sebagai pengepel lantai di Gedung Putih. Hebat.

Bagaimana bila dibalik. “Memangnya anda pikir dia siapa, orang Yahudi?” atau “orang Meksiko?”, pasti akan terjadi hysteria dimana-mana karena tidak wajar untuk merendahkan Yahudi, Meksiko atau yang lainya kecuali Arab[5]. Bapaknya saja menggambarkan betapa Rahm sangat pro-Israel.

3. Hillary Clinton

Hillary resmi dipilih sebagai Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Obama nanti (NY Times, 21 November 2008). Dia juga orang dalam AIPAC yang rekor pro-Israelnya susah dilampaui. Hillary adalah pendukung utama perang ekonomi dan militer Bill Clinton terhadap Irak akhir tahun 90an. Ketika kampanye lalu ia sempat mengeluarkan pernyataan radikal yang berbunyi “Saya ingin warga Iran tahu, jika saya menjadi presiden saya akan menyerang Iran.” Dia juga mengancam kalau Iran menuklir Israel, Hillary “would be able to totally obliterate them” alias akan benar-benar memusnahkan seluruh Iran, menjadi tempat sampah nuklir. Ia juga mendukung invasi Amerika ke Irak di tahun 2003.

4. Madeleine Albright

Dari sejumlah mantan pejabat dalam pemerintahan Clinton (mantan Mentri Luar Negeri Warren Christopher, Menteri Pertahanan William Perry, dan Greg Craig yang dirunjuk sebagai penasehat Gedung Putih Obama), Madeleine Albright adalah yang paling berpengaruh (status quonya). Ia adalah mantan menlu dan dubes untuk PBB di masa Clinton yang menurut Schahill akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan luar negerinya. Buktinya, walau ia belum ditunjuk menempati posisi resmi, ia telah mewakili Obama dalam pertemuan G-20 kemarin.

Albright adalah otak dari terpecahnya Yugoslavia dan perang Kosovo selama pemerintahan Clinton. Ia memaksa Yugoslavia menandatangani pakta Rambouillet Accord yang membebaskan tentara NATO dan Amerika untuk mengakses SEMUA fasilitas penting Yugoslavia (termasuk transportasi) tanpa perlu membayar, dan memaksa Yugoslavia untuk memberikan kekebalan hukum terhadap semua pasukan NATO dan Amerika tersebut.

Tentu saja Yugoslavia menolak menandatanganinya (karena Yugoslavia masih punya martabat, bagaimana bila Indonesia yang dipaksa ya?). Hasilnya Clinto dan Albright membom Serbia, target utamanya tentu saja infrastruktur sipil (sekolah, rumah sakit, dll) dan Albrigh berkata “mereka perlu sedikit dibom” (klasik sekali: agar tidak kelihatan berperang, Amerika membom fasilitas sipil, sehingga korbannya tidak bisa dihitung karena efek nya tidak langsung terlihat. Amerika dan Israel memang jenius).

Kejeniusan Albright dan Clinton berlanjut ketika ia mensupport perang ekonomi terhadap Irak, yang menurut Lesley Stahl dalam acara “60 Minutes,” telah menewaskan “lebih dari setengah juta anak-anak Irak, lebih dari yang tewas di Hiroshima.” Lalu apa respon Albright? Ia berkata “memang pilihan yang berat, tapi setidaknya harganya sebanding yang kita dapat” www.informationclearinghouse.info/article21279.htm (perang ekonomi Clinton ini jarang di gubris di media, tapi telah menjadi beberapa buku karangan Chomsky. Hebat Amerika, mereka berperang tanpa seorangpun perlu tahu berapa korban di Irak, yang menurut analisa Chomsky lebih dari 1 juta jiwa. Belum ditambah perang Iraknya Bush yang telah menewaskan 1,3 juta jiwa sejak 2003, lihat halaman depan ICH untuk up-date korban perang Irak: www.informationclearinghouse.info ).

5. Richard Holbrooke

Nah ini ada hubungannya dengan Indonesia. Walau belum biberi jabatan resmi, tapi pengaruh Holbrooke terhadap kebijakan luar negeri Obama akan sangat besar. Ia adalah mantan pejabat Clinton untuk PBB. Rekornya yangpaling menawan adalah ia memberikan bantuan (dana dan militer) dan menyetujui pembantaian warga Timor Timur oleh pasukan Indonesia di tahun 70an. Saat itu ia adalah asisten menteri luar negeri pemerintahan Carter.

Menurut Brad Simpson, directur dari The Indonesia and East Timor Documentation Project, Holbrooke dan Zbigniew Brzezinski (penulis, sejarawan pemerintah dan penasehat Obama lainya) adalah dua petinggi penting Partai Demokrat yang menghalangi kongresional aktivis perdamaian dunia untuk mencegah invasi Indonesia ke Timor Timur. Malahan, mereka berdua memuluskan bantuan sejata ke Indonesia untuk membantai warga Timor Timur saat itu.

Rekor Holbrooke lainya adalah ia adalah pemain penting dalam penghancuran Yogoslavia. Ia memuji pemboman terhadap Serb Television yang menewaskan 16 wartawan. (yang memberikan perintah pemboman tersebut, Jenderal Wesley Clark, juga salah satu advisor Obama saat ini, yang kemungkinan besar akan mendapat kursi di cabinet). Ia juga supporter perang Irak dengan memuji pidato Collin Powell (yang sangat buruk dan tidak berdasar fakta) tentang betapa berbahayanya Saddam Hussein, si setan Arab yang ingin memusnahkan Amerika (dengan batu???).

6. Dennis Ross

Ross adalah utusan khusus untuk masalah Timur Tengah pemerintahan Bush saai ini dan juga pemerintahan Clinton. Ia adalah arsitek dan penulis pidato Obama didepan AIPAC musim panas lalu (yang menyatakan bahwa Obama adalah supporter Israel tanpa syarat dan ingin menghadiahkan Jerusalem untuk Israel sebagai ibukota baru, lih: www.enunggling.multiply.com tentang AIPAC dan Obama). Ia juga seorang supporter Israel sejati, bahkan julukanya adalah “Israel’s Lawyer” karena dinama-mana cinta dan setuju apapun yang dilakukan Israel. Ia adalah jembatan segala kebijakan luar negeri Amerika ke Israel. Seluruh kebijakan luar negeri Timur Tengah Amerika harus melewati sensor Israel lewat Ross. Ia bahkan bekerja untuk FOX News yang selalu pro perang Irak, dan juga di Washington Institute for Near East Policy, sebuah organisasi intelektual penggagas kebijakan pro-Israel. Ia juga bersikap keras terhadap Iran.

7. Martin Indyk

Kalau Indyk ini malah pendirinya Washington Institute for Near East Policy tadi. Ia telah lama menjadi pejabat AIPAC serta sebagai Duta Besar untuk Israel di masa Clinton, serta Asistem Menteri Luar Negeri Untuk Urusan Timur-Tengah. Dia juga telah lama bekerja untuk pemerintah Israel juga. Ali Abunimah, pendiri ElectronicInifada.net dalam mengatakand pada Amy Goodman, penyiar Democracy Now, bahwa Obama telah masuk dalam lingkaran penjabat-pejabat garis-keras yang paling pro-Israel, dan mengatakan kalau Ross dan Indyk adalah dua dari pejabat yang paling pro-Israel yang juga paling tidak dipercaya di Timur Tengah karena keterlaluan pro-Israelnya[6].

8. Anthony Lake

Lake adalah manatan National Security Advisor masa Clinton yang sangat pro-Obama. Ia dengan Henry Kissinger (pejabat militer dan mantan dewan komisaris Freeport) bekerja dalam "September Group” yang melancarkan pembantaian terhadap warga Vietnam Utara saat perang Vietnam. Ia juga pejabat Clinton yang paling depan ketika membombardir Haiti untuk menggulingkan pemerintahan dan memaksakan IMF dan Bank Dunia masuk ke Haiti yang akhirnya menjadi bencana kemanusiaan yang terkenal (Chomsky telah membahas tentang Haiti di banyak bukunya termasuk di Hegemony or Survival).

9. Lee Hamilton

Kalau Hamilton ini agak netral. Ia adalah mantan kepala House Foreign Affairs Committee wakil dari Iraq Study Group dan 9/11 Commission, (yang hasil investigasinya dengan James Baker menyimpulkan bahwa Irak tidak punya senjata pemusnah massal, sepenuhnya diabaikan oleh Bush. Googling saja: “Baker-Hamilton Proposal”).

10. Susan Rice

Mantan Asisten Menteri Luar Negeri dan pejabat Dewan Keamanan Nasionalnya Clinton. Kemungkinan besar akan ditunjuk Obama sebagai duta besar untuk PBB. Pro perang Irak dan setuju dengan rencana Amerika dan NATO untuk menyerang Sudan karena krisis Darfur.

11. John Brennan

Pejabat yang lama berkerja untuk CIA dan mantan kepala National Counterterrorism Center. Brennan adalah salah satu coordinator untuk transisi badan intelijen ke kendali Obama. Ia pendukung metode penyiksaan sebagai teknik interogasi dan pendukung imunitas badan telekomunikasi untuk memata-matai seluruh pengguna telekomunikasi. Program Clinton tentang penculikan dan penyiksaan sepenuhnya bisa dibenarkan, kata Brennan. Ia sekarang pemimpin perusahaan intelijen swasta Analysis Corporation.

12. Robert Gates (bukti Obama adalah pembohong!)

Robert Gates adalah Menteri Pertahanan Bush saat ini, yang sekarang oleh Obama dipilih kembali menjadi bagian dari pemerintahan baru, menduduki jabatan yang sama. Disini, seperti diutarakan banyak analis, terlihat betapa tidak ada bedanya antara Demokrat dan Republikan. Dalam pemerintahan Bush saat ini, Gates dipilih menjadi menteri Pertahanan menggantikan Donald Rumsfeld karena alasan krusial. Rumsfeld mengusulkan untuk keluar dari Irak, sehingga Bush harus memecatnya. Penunjukan kembali Gates oleh Obama sangatlah mengherankan. Kontras dengan semboyan kosong Obama “Change we can believe in.” Penunjukan tersebut juga mengindikasikan kalau Amerika tidak akan segera cabut dari Irak.

Gates memiliki rekor luar biasa dalam politik internasional. Dalam pemerintahan Bush I, ia adalah kepala CIA yang terlibat dalam invasi Amerika ke Panama, terlibat dalam pembiayaan rezim Guatemala untuk meng-genocide rakyatnya. Ia juga supporter utama rezim brutal Suharto, serta terlibat dalam penggulingan pemerintahan demokratis Jean-Bertrand Aristide di Haiti. Dan tentu saja ia adalah supporter sejati perang Irak. Ia juga arsitek Perang Teluk 1991.

Tidak hanya itu saja, dibawah Gates, Amerika memodernisasi senjata nuklir mereka (artinya memproduksi senjata baru).

Sangat aneh, mengapa kebohongan Obama sangat mudah dicerna, walaupun dengan semangat, ia saat kampanye menjanjikan akan menarik pasukan dari Irak, akan melucuti senjata nukllir, dll. Seperti diutarakan oleh Matthew Rothschild di The Progressive, 1 Desember 2008 lalu, Obama memilih untuk tidak merubah kebijakan luar negerinya. Hanya bedanya dengan Bush, Obama tidak terlalu agresif, namun lebih efektif.

Bahkan menurut E. J. Dionne di Wahington Post, terpilihnya Obama menjadi presiden berarti menjual kebijakan luar negeri Bush saat ini ke presiden Bush I, karena taktiknya sama seperti Bush I (http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2008/11/27/AR2008112702048.html?hpid%3Dopinionsbox1&sub=AR )

Sedangkan, seperti dikemukakan Pul Craig Roberts[7] (ICH, 5 Desember 2008), bagaimana Obama, yang saat kampanye gembar-gembor soal perubahan, bisa-bisanya menunjuk “wanita paling arogan di dunia” (Hillary Clinton) sebagai Mentri Luar Negerinya? Dan pemerintahan Obama nanti bisa-bisanya dikelilingi para Likudniks, alias para pejabat pro partai Likud Israel yang terkenal radikal?

Bagi semua yang mengharapkan perubahan dari Obama, siap-siap saja menelan kekecewaan!

--tentang Gates lihat: “With Gates, Obama Opts fro Empire” di www.informationclearinghouse.info/article21362.htm atau di http://www.progressive.org/mag/wx112608.html )

Untuk selengkapnya tentang pejabat-pejabat (penjahat-penjahat) dalam pemerintahan baru Obama lihat: “This is Change? 20 Hawks, Clintonites and Neocons to Watch for in Obama's White House” oleh Jeremy Scahill di www.informationclearinghouse.info/article21279.htm

Juga artikel terbaru Ralph Nader (Capres independen Amerika 2008) di www.informationclearinghouse.info/21297.htm atau kompilasi lengkap Matt Gonzalez (cawapresnya Nader) tentang para pembantu Obama di http://www.counterpunch.org/gonzalez10292008.html



[2] Tentang bencana kemanusiaan Gaza yang sekarang sedang terjadi, lihat: Joe Mowrey “Deprivation and Desperation in Gazawww.informationclearinghouse.info/21308.html

[3] Untuk lebih lengkap tentang para pembantu Obama di pemerintahanya, yang ternyata didominasi orang-orang lama terutama dari permerintahan Clinton, lihat artikel Jeremy Scahill di www.informationclearinghouse.info/21279.htm yang diambil dari AlterNet. Juga artikel terbaru Ralph Nader di www.informationclearinghouse.info/21297.htm atau kompilasi lengkap Matt Gonzalez (cawapresnya Nader) tentang para pembantu Obama di http://www.counterpunch.org/gonzalez10292008.html

[4] Lih: Paul J. Balles, “Rahm Emanuel’s Israeli Gate” di www.informationclearinghouse.info/21298.htm

[5] Toleransi terhadap rasisme pada bangsa Arab ini dibangun di barat lewat film-film Hollywood sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Di artikel yang sama disebutkan riset Prof. Jack Shaheen tentang rasisme dalam ribuan film produksi Hollywood. Hasilnya: 12 film memberi gambaran positif terhadap Arab, 52 netral, dan 900an menyudutkan bangsa Arab. Lih: Paul J. Balles, “Rahm Emanuel’s Israeli Gate” di www.informationclearinghouse.info/21298.htm