Thursday, December 8, 2011

Evolusi atau Bencana?

8 September 2011

Darwin mengatakan bahwa semua tumbuhan berbunga berasal dari tumbuhan tidak berbunga dan manusia berasal dari kera, walaupun seperti yang ia duga, gagasan ini belum bisa dibuktikan karena sampai detik ini belum ditemukan fosil transisi (missing link) antara tumbuhan tidak berbunga-tumbuhan bunga dan antara kera berjalan tegak dan manusia. Tapi karena teori evolusi sudah terlanjur menjadi ideologi di kalangan akademisi dan ilmuwan, semua bukti yang tidak sesuai menjadi tidak ilmiah dan bukan sebuah ilmu pengetahuan. Jadi jangan marah jika Mocopat tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan.

Uniformitarianisme menyatakan bahwa alam semesta (Bumi, bintang, dan triliunan galaksi beserta keharmonisan gaya gravitasi antar mereka) terbentuk lewat proses teratur, gradual, regular, matematis, dan dalam tempo yang sangat lama, entah diawali dengan Big Bang-nya Einstein atau memang sudah ada dengan sendirinya, seperti yang ingin dibuktikan Stephen Hawking. Namun, ternyata banyak sekali ketidak teraturan dan bencana-bencana selestial yang ikut membentuk tatanan alam semesta sampai saat ini.

Immanuel Velikovsky, seorang fisikawan dan psikoanalis Yahudi Rusia, misalnya, pada 1950an mengemukakan gagasan bahwa Bumi menjadi seperti ini bukan karena proses teratur dan panjang dari evolusi, melainkan melewati berbagai bentuk bencana besar yang sebenarnya sudah tercatat dalam mitos-mitos, legenda dan cerita di semua kebudayaan tua di Bumi (ia menyebut Israel, India, Yunani salah satunya). Pendiri Hebrew University of Jerusalem ini mengemukakan dalam buku best-sellingnya “Worlds of Collision” bahwa keadaan alam semesta saat ini sangat dipengaruhi oleh gaya elektromagnetik yang mengganggu kestabilan gaya gravitasi. Gaya elektromagnetik tersebut tercipta dari berbagai ledakan-ledakan bintang (supernova) dan tabrakan galaksi yang memang sering terjadi di alam semesta.

Velikovsky, yang juga teman Einstein, mengatakan bahwa Bumi pernah mengalami bencana alam dengan skala yang sangat hebat. Ini dibuktikan dengan kepunahan berbagai spesies hewan secara tiba-tiba, bukan dalam waktu yang lama seperti kata Darwin. Ia mengatakan, peradaban yang ditemukan di gua-gua bukanlah peradaban manusia primitif, melainkan karena mereka mengungsi dari bencana global yang saat itu terjadi. Contoh lain, banjir bandang di era Nabi Nuh yang dicatat dalam sejarah berbagai bangsa, terjadi bukan akibat mencairnya es di kutub, namun akibat paparan radiasi dari ledakan bintang/planet (supernova) yang dekat dengan Bumi kita, yang memicu tsunami besar dan ledakan ribuan gunung api yang menyapu dan menenggelamkan berbagai peradaban manusia, serta merubah wajah bumi secara signifikan.

Velikovsky juga mengatakan bahwa planet Venus (yang orbitnya berlawanan dengan planet lain, yang materi penyusunnya paling berbeda dengan planet lain, dan yang ternyata memiliki jejak ekor yang panjangnya 45 juta kilometer yang terekam dari Satelit SOHO pada 1997) dahulunya adalah sebuah komet raksasa yang selalu menghantui nenek moyang kita (sehingga disimbolkan sebagai Dewi atau Bintang Berambut Panjang dalam mitologi Yunani, dan Naga yang menelan Bumi dalam budaya Cina). “Komet” Venus pernah menciptakan radiasi luar biasa di Bumi dan menyebabkan Eksodus besar-besaran umat manusia pada 1500 tahun sebelum masehi seperti di catat dalam Injil. Bencana global ini lumayan sering terjadi, dan menjadi sebab terpisahnya kepulauan Inggris dari benua Eropa yang terjadi baru 6000 tahun yang lalu.

Dalam buku “Earth Under Fire,” Dr. Paul LaViolette juga mengemukakan bukti bahwa debu kosmik dengan konsentrasi tinggi (Iridium) yang ditemukan dibawah lapisan es di Greenland merupakan materi yang sangat langka di Bumi, namun sangat banyak di luar angkasa. Ternyata, Iridium ini berasal dari supernova yang terjadi 11 ribu tahun yang lalu dan mengakibatkan bumi menyala karena terpapar radiasi, gunung-gunung berapi bermunculan, tsunami maha dahsyat menyapu Atlantis, dan kerak bumi bergeser membentuk benua-benua baru. Debu-debu bintang ini juga terperangkap oleh gravitasi dan sekarang menjadi materi pada cincin planet Saturnus.

Supernova-supernova yang sering terjadi mungkin tidak terlalu memberikan pengaruh di level alam semesta (beberapa minggu yang lalu NASA mempublikasikan gambar tabrakan galaksi yang jaraknya triliuan triliunan triliunan tahun cahaya dari Bumi). Namun, ia akan memberikan efek luar biasa pada planet-planet dan tata surya didekatnya, karena serpihan-serpihan bintang yang beterbangan dan radiasi akibat ledakan tersebut mampu mengganggu gaya gravitasi antar planet dan antar bintang, merubah kutup planet-planet, atau bahkan ikut menghancurkan planet-planet kecil di sekelilingnya.

Kosmologi Aristoteles yang dibangun selama beberapa millennium “runtuh” dan terlupakan oleh munculnya teori evolusi di tahun 1800an. Walau teori evolusi telah menjadi ideologi di kalangan akademis, pertanyaannya seharusnya, “Kita harus meneliti alam ini sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kita [Darwin cs.] mau.” Celakanya, bagaimana jika keadaan Bumi yang masih adem ayem selama beberapa ribu tahun terakhir ini ternyata cuma keberuntungan belaka, karena bintang-bintang di dekat kita belum meledak?

Sumber: Douglas Kenyon (Ed.), “Forbidden History,” 2005

2 comments:

Jantan Putra Bangsa said...

sunggu catatan yang menarik. membuat saya semakin mewaspadai 2012 ini. hehe

Muhamad Kebo Hidayat said...

cuma sekedar membaca kok mas, dan menuliskannya kembali...hehe